Sepotong Roti Hijau

Di kemasan plastiknya bahkan ada jejak sayur busuk. Hijau kehitaman dan oranye. Mungkin semacam caisim atau bayam dengan wortel. Darsuni mengelapnya dengan tepi kausnya sebelum membukanya dan membaginya menjadi empat. Sama besar, sama hijaunya. Bercak-bercak hijau yang menjadi sedikit biru di tengah keremangan. Melalui ekor mata, Darsuni tahu ibunya mengangguk sambil menyimpul kedua ujung benangnya.

“Ada lagi?” sahutnya seraya mulai menisik dan baju yang rombeng akan tampak makin rombeng.

Pada titik ini, Darsuni dalam hati selalu bertanya-tanya. Jadi, mana yang lebih baik? Lubang-lubang di baju-baju itu ditambal atau justru dibiarkan saja menganga? Tak pernah ada jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan seperti ini.

“Tentu. Seperti biasa. Wortel, kubis, juga kentang. Tak pernah ada biji jagung tersisa di tongkolnya dan sawinya terlalu busuk untuk bisa diolah. Mungkin karena kemarin malam hujannya deras sekali.”

Ibunya kembali mengangguk. “Bagus. Kalau begitu, masih ada harapan untuk besok.”

Anggukan ibunya kecil saja, perhatiannya begitu terpusat pada tisikan di hadapannya, dan Darsuni telah hafal di luar kepala irama yang terus diputar ulang di dalam rumah itu.

Baca juga: Di Balik Sebuah Tawa – Cerpen Dwi Rezki Fauziah (Media Indonesia, 29 Juli 2018)

“Lain kali aku akan tetap keluar dan memeriksa muntahan truk itu sekalipun hujan badai. Sayang sekali kalau yang seharusnya masih bisa dimanfaatkan menjadi sia-sia hanya karena kita terlambat mengambilnya.”

Ibu Darsuni mengangguk lagi, menggigit dan menyentak benang kuat-kuat. “Begitu lebih baik.”

Dan seluruh roti hijau telah masuk ke perut. Adik Darsuni yang laki-laki bahkan mengambili remah-remah di sekitarnya dengan jarinya yang basah lalu menjilatinya.

“Nah, bagaimana roti kalian? Enak, kan?”

Darsuni mengangguk bersama kedua adik perempuannya. Adik perempuan yang paling besar bahkan menambahinya dengan, “Kapan-kapan bawakan donat, Ayah. Aku ingin sekali makan donat. Kata orang-orang, donat enak sekali. Paling enak di antara semua roti.”

Adik perempuan Darsuni yang lain menimpali, “Yang atasnya cokelat keju ya, Yah?”

Lelaki itu tertawa. “Tentu saja. Hanya sebuah donat cokelat keju, kan?”

Arsip Cerpen di Indonesia