Sepotong Roti Hijau

Lalu adik Darsuni yang tak bisa lagi mengambil remah apa pun dengan jarinya yang basah ikut angkat suara, “Apa donat juga hijau, Yah?”

Darsuni seketika mendongak. Ayahnya berhenti tertawa. Dan benang bohlam lima watt itu putus tepat saat Darsuni yakin ada yang meleleh di pipi ibunya.

***

Di kejauhan, anak-anak itu telah kembali berkejaran. Bermandikan sampah, dikerubuti lalat-lalat, atau justru mereka yang mengerubuti lalat-lalat. Jari-jari Darsuni dan pisau siletnya bergerak kian cepat. Srat, sret, srat, sret dan gundul sudah bibir gelas-gelas itu. Mendung makin tebal dan gemuruh telah terdengar. Sedikit lagi, pikir Darsuni, saat titik pertama jatuh di punggung tangannya.

“Bapak! Gerimis, Pak!”

Darsuni mendongak, “Ayo, bawa adikmu masuk! Nanti ibumu marah!”

Baca juga: Nyanyian-nyanyian di Damrak – Cerpen Ida Fitri (Media Indonesia, 22 Juli 2018)

Jari-jari dan pisau silet Darsuni bergerak kian cepat dan makin cepat saja. Sangat cepat sampai titik-titik yang menyusul jatuh bukan lagi bening, melainkan merah. Kaki-kaki kecil itu berlompatan di atas samudra bacin, menerbangkan satu-dua plastik dan kertas yang tersangkut di antara jari-jari kaki dan sandal jepit.

Terbang bersama ingatan Darsuni saat ia harus menyunggi baskom tak seberapa berat sambil meneriakkan, “Lauk! Lauk! Bakwan sayur, sambal goreng kentang! Bakwan! Bakwan! Sambal goreng kentang! …”

Di luar sana, dunia tak henti-hentinya bergerak. Di sini, di dunia Darsuni, dunia serasa menjebak. Kian pengap, kian membuat dada sesak. Hujan turun deras sekali, membungkam jeritan dua bocah yang menyaksikan jagoan mereka tiba-tiba jatuh terkapar di antara gunungan gelas bekas air mineral. Pisau silet dalam genggaman. Jari-jari tangan kiri nyaris putus dan di pergelangan, takdir itu digariskan.

 

Surakarta, 4 Agustus 2018

Marliana Kuswanti senang menulis dan dua novel Sepasang Angsa Putih untuk Palupi (Bhuana Sastra, 2017) dan ABADI TAILOR, Mengejar Cinta Tifanny (Bhuana Sastra, 2018) sudah terbit.

Arsip Cerpen di Indonesia