Tujuh Anjing Penjaga

“Tapi bisa saja anjing-anjing itu memang sengaja pergi dan mencari tuan baru. Di kota sebelah ada peternak anjing. Orangnya baik dan tidak pelit, tapi sudah tua dan bau tanah. Barangkali sebentar lagi orang itu mati dan anjingnya yang banyak entah pergi ke mana. Anjing-anjing Bu Meli mana tahu soal bau tanah, jadi mereka kira di tempat peternak tua itu bakal aman sentosa sampai hari kiamat mendatang. Mereka agak bodoh karena kurang gizi dan setiap hari disuruh jaga rumah dari maling dan rampok. Setiap hari jaga melulu. Kalau saya sih sudah gila!”

Tentu saja dari berbagai spekulasi ngawur itu ada yang beranggapan selalu ada kemungkinan bagi anjing-anjing lapar untuk menyerang dan memakan sang tuan. Dulu pernah di suatu kampung di kota ini, tuan pemilik beberapa ekor anjing pergi meninggalkan rumah selama dua minggu. Anjing-anjing itu tidak diberi makan apa-apa, sehingga saling memangsa.

Suatu hari, saat kepulangan sang tuan, ada keributan. Tetangga tak berani melihat. Mereka tahu keesokan harinya tuan itu habis dimakan anjing-anjingnya. Di dekatnya, ada tulang belulang dua ekor anjing lain yang paling lemah.

“Mungkin mereka tidak sanggup karena Bu Meli kelewat cantik,” kata seseorang menimpali, mendengar teori anjing-makan-tuan sendiri itu.

“Atau jangan-jangan Bu Meli pasang susuk, sehingga anjing-anjing itu terpikat dan barangsiapa yang jatuh cinta tidak mungkin melukai.”

“Memang anjing punya perasaan?!”

“Memang ada yang tidak mungkin di dunia ini?”

Baca juga: Maria dan Toko Baju – Cerpen Ken Hanggara (Koran Tempo, 04-05 Agustus 2018)

Demikianlah, banyak perdebatan lahir di warung kopi dan semua berputar di perkara hilangnya anjing-anjing itu. Bu Meli tidak peduli atas berbagai teori. Dia ingin tahu bagaimana anjing-anjing itu kabur atau hilang. Antara dua hal, kabur atau hilang, yang belum jelas tapi pasti: anjing-anjingnya sudah tidak ada di kandang.

Pagi ketika Bu Meli sadar anjing-anjing itu tidak ada, gerbang depan terbuka lebar. Tentu ia tidak akan pusing seandainya ada beberapa barang berharga hilang; itu pasti ulah perampok. Mereka bisa saja membunuh anjing-anjing dengan pistol berperedam suara dan mengangkut tubuh para penjaga gerbang sang pelit dan membuangnya ke pengepul daging anjing demi melahirkan nuansa misteri ala novel detektif.

Sayang sekali, itu tidak mungkin ada. Semua barang berharga utuh. Anjing-anjing tidak dibunuh oleh perampok. Mungkinkah setan? Anjing-anjing itu bisa saja kedatangan para setan dari suatu tempat untuk menghasut mereka agar memakan habis tubuh seksi Bu Meli. Tubuh sintal yang tentu saja akan sangat nikmat bagi binatang karnivora. Namun karena anjing-anjing itu setia, mereka tidak terbujuk. Mereka justru mengejar setan-setan laknat itu sampai ke neraka, dan tentu saja hewan yang semula terbiasa menghirup udara bumi, tidak tahan panas api neraka. Ketujuh anjing itu pun mati di neraka!

Arsip Cerpen di Indonesia