Tujuh Anjing Penjaga

Oh, Bu Meli sekarang gusar. Apa pun itu, entah anjing-anjing itu mati di neraka, entah dibunuh para perampok psikopat (karena tidak ada barang berharga hilang), entah mencari rumah peternak anjing tua dan berharap kehidupan yang lebih mengenyangkan di sana, dan entah kelompok pencinta binatang mencuri anjing-anjingnya diam-diam, Bu Meli tidak peduli. Pokoknya ia harus dapat pengganti yang bisa menjaga pintu gerbang rumahnya yang besar.

Tentu saja Bu Meli tidak memakai susuk kalau sekadar takut bakal disantap anjing-anjingnya. Memang ada anjing jatuh cinta pada manusia? Bu Meli tidak yakin itu terjadi dan beliau orang yang logis. Lagipula kalau pergi ke dukun untuk memasang susuk, pastilah bayar banyak dan itu amat merugikan. Itu tidak pernah ada dalam buku agenda janda bernama Meli, yang seksi, berduit banyak, pelit, dan hidup sendiri ditemani tujuh anjing penjaga.

Hilangnya anjing-anjing sama dengan hilangnya tingkat keamanan. Bu Meli butuh pengganti yang bisa menjaga pintu dari ancaman maling dan rampok dan boleh jadi pemerkosa.

Tersebar luas omongan soal dia dan anjing yang hilang membuat orang yang semula tidak tahu Bu Meli menjadi tahu. Dan, kita boleh curiga, di antara orang-orang itu barangkali ada yang mata keranjang sehingga laki-laki itu lantas membayangkan menerobos masuk rumah tanpa penjaga untuk mengerjai pemiliknya.

Soal kemungkinan ada pemerkosa dipikirkan oleh para warga yang kenal betul Bu Meli. Mereka bukan mau memerkosa, melainkan merasa mendapat hidayah dari Yang Mahakuasa bahwa hidup di dunia ini memang tidak boleh pelit, bahkan terhadap anjing sekalipun.

Baca juga: Kota Mati dan Pembunuhnya – Cerpen Ken Hanggara (Tribun Jabar, 22 Juli 2018)

Mereka sudah memastikan, meski tanpa bukti, anjing-anjing Bu Meli pergi karena kurang hiburan dan bosan punya majikan pelit yang selalu menyuruh jaga malam, padahal makanan kurang. Tubuh mereka juga butuh asupan gizi lebih banyak kan?

Kalau saja janda itu tidak pelit, tentu tujuh anjing galak itu tidak akan pergi dari rumah yang bagai istana, hingga Bu Meli tidak akan merasa cemas bakal diperkosa orang. Coba saja ada yang berani masuk, sementara tujuh ekor anjing siaga di pintu gerbang, sudah celaka duluan bajingan itu, siapa pun dia. Belum memerkosa, sudah dicabik duluan oleh anjing-anjing, apalagi dalam kondisi lapar. Anjing-anjing itu mungkin saja akan memangsa habis sang penjahat dan tidak ada satu pun tetangga tahu karena anjing-anjing itu sangat rajin. Mereka selalu mengerjakan segala sesuatu dengan rapi.

Tentu soal penjahat yang dimangsa anjing itu termasuk dalam pikiran warga yang tidak tahu kenyataan tetapi suka berspekulasi. Bu Meli memang pelit, tetapi lihat efek yang dihasilkan. Rumahnya aman dari incaran penjahat. Dan, tidak pernah ada kabar maling atau rampok menyatroni rumahnya, padahal rumah itu paling besar di kawasan ini.

Arsip Cerpen di Indonesia