Semaun dan Kalung Kafan di Lehernya

“Brengsek. Sebenarnya kalian enggan mencari keluargaku, kan! Kalian takut mereka bakal menemukan buku piutangku. Karena nama kalian—satu-satu-tercatut di dalamnya, lengkap dengan jumlah tanggungan utang serta bunganya,” Semaun berontak, tak seorang pun yang mendengarnya.

Selagi jasad Semaun dimandikan oleh Siak [2] dalam karando [3], Engku Jorong dan jajarannya menggelar rapat dadakan di Sidang Sabuah Balai [4], membahas peninggalan harta gono-gini almarhum yang jumlahnya tak sedikit. Sama sekali tak ada perdebatan panjang dalam rapat itu, hingga lahir keputusan bahwa kekayaan Semaun akan digunakan untuk kepentingan kampung; seumpama mempercantik rumah ibadah, memperbaiki saluran irigasi, serta menyisihkan hak si yatim kampung.

Baca juga: Darah Daging – Cerpen Kartika Catur Pelita (Haluan, 05 Agustus 2018)

“Moga-moga, dengan sepakatnya salingka atok [5] soal peruntukan harta ini, seumpama pahalanya dapat terus mengalir pada almarhum Semaun,” doa Engku Jorong di penghujung rapat.

***

Jenazah Semaun telah kelar ditanam di pandam pusara kampung. Satu demi satu warga pergi dari gundukan kubur yang ditanami pelepah pinang. Anehnya, air muka sebagian mereka lebih cerah dari biasanya. Usut punya usut, ada satu kegembiraan yang sama-sama mereka rasakan dalam hati, tapi secara bathin disepakati untuk tidak dirayakan, yaitu perihal kitab piutang milik Semaun—dimana nama mereka tercantum di dalamnya—yang tidak ditemukan.

Rinto adalah orang terakhir yang beranjak menjauhi Semaun yang tidur menyamping dalam tanah. Tepat setelah Rinto makin jauh pada langkah ke tujuh, Semaun berteriak hebat karena melihat sekelebat cahaya datang mendekati papan penutup lahatnya.

“Siapa itu?” teriaknya. “Jangan takut-takuti aku,” sambungnya ketakutan.

Baca juga: Ayah Ingin Aku Menari – Cerpen Amika An (Haluan, 11-12 Agustus 2018)

Papan lahat yang tadinya tersusun rapi jadi hancur lebur seperti bubur karena didobrak oleh cahaya. Semaun tercengang. Ternyata ia kedatangan sesosok malaikat yang tak banyak dikenali orang. Semaun ingin protes pada tamu gaibnya yang datang tak diundang. Tapi belum lagi protes diajukan, mulutnya telah lebih dulu disumpal malaikat itu dengan sebongkah tanah bulat. Tadinya tanah itu dicetak warga untuk menahan jasad Semaun, agar bibir dan hidung jasad senantiasa mencium dinding lahat hingga akhirat.

Malaikat itu menggenggam seuntai cambuk yang pada ujungnya tumbuh duri-duri api. Tanpa basa-basi, cambuk itu melayang ke perut Semaun yang buncit berisi. Sekali cambukan saja, tubuh Semaun terperosok ke inti bumi, lalu ditarik lagi oleh malaikat ke tempat semula. Adegan itu terjadi berulang kali. Semaun mengerang kesakitan setiap kali terbenam ke inti bumi dan ditarik lagi ke liang lahat. Jika saja warga kampung bisa mendengar dahsyatnya erangan Semaun, gendang telinga mereka pasti pecah. Saking kerasnya.

Arsip Cerpen di Indonesia