Semaun dan Kalung Kafan di Lehernya

Kejadian dan kenyataan apapun yang didapati di padang maha luas itu, tak seorang pun punya hak untuk bicara, bertanya, atau mengacungkan tangan. Semuanya diwajibkan berjalan ke arah yang sama dalam keadaan diam, menuju satu timbangan maha besar yang telah digelar. Semaun, Rinto, dan ratusan juta makhluk lain berbalas langkah menuju timbangan itu.

Semaun dan Rinto tiba di gerbang timbangan dalam waktu nyaris berhampiran. Pada papan besar di dekat gerbang itu tertulis; pendaftaran hidup di keabadian. Dan di meja pendaftaran, seorang malaikat telah menunggu. Setelah mengisi daftar hadir, keduanya diserahi satu buku berjudul riwayat kehidupan, judul yang sama persis dengan kepala catatan di kalung kafan masing-masing. Semaun dapat satu, Rinto juga begitu. Bedanya, Rinto sekarang punya dua buku.

Baca juga: Pertemuan – Cerpen Yulputra Noprizal (Haluan, 29 Juli 2018)

“Adu catatan di buku itu dengan catatan di kalung kafan kalian,” perintah malaikat penjaga gerbang pada keduanya.

Semaun dan Rinto membuka kalung kafan sambil saling lempar tatapan tajam. Sepersekian detik saja mereka sudah selesai mengadu kesahihan data yang ada di dalam buku dan yang mereka tulis sendiri di kalung kafan. Tak ada yang perlu dikoreksi, semuanya cocok, sesuai dan bersifat pasti.

“Kau curi buku piutangku. Kurang ajar,” bisik Semaun pada Rinto. Yang dibisiki tak merespon sama sekali. Saat melintasi sehelai rambut panjang dan tajam, keduanya bergiliran tergelincir ke laut jahanam.***

 

Ana Nurhasanah, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Negeri Padang. Senang membaca. Tengah berupaya menyelesaikan studi.

 

Catatan:

[1] Pemimpin jorongpemerintahan di bawah desa di Minangkabau

[2] Orang yang menuntut ilmu agama

[3] Keranda

[4] Rumah Gadang tempat menggelar rapat di Minangkabau

[5] Peserta rapat di Sidang Sabuah Balai

Arsip Cerpen di Indonesia