“Kafanmu itu jumlahnya tujuh lapis. Kau copot sehelai dan cepat tulis riwayat hidupmu selama di Bumi—di atasnya,” perintah Malaikat pada Semaun.
Semaun bergegas melaksanakan titah itu. Ia maha takut akan dicambuk lagi. “Tapi, dengan apa aku dapat menulis?” tanyanya kebingungan.
“Gigit jarimu, tulis dengan darah,” timpal malaikat.
Segala sesuatunya memang menjadi amat mungkin saat berada di alam gaib. Maka bersibuk dirilah Semaun menulis riwayat hidupnya selama di Bumi. Ia menulis sangat detail di permukaan kafan. Tak ada yang tertinggal barang seadegan. Apalagi saat menulis riwayat penagihan bunga pinjaman, pada Rinto dan pada beberapa warga lain yang pernah dipinjaminya uang. Riwayatnya mirip-mirip, jumlah bunga yang ditagih sama besar dengan jumlah pinjaman. Karena itu, Semaun tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan tugas dari malaikat.
Baca juga: Pelarian – Cerpen Raflis Chaniago (Haluan, 18-19 Agustus 2018)
“Kalungkan kafan itu ke lehermu. Ikat sekuat-kuatnya di situ,” lanjut titah malaikat.
Takut disiksa lagi, Semaun buru-buru mengalungkan kafan riwayat hidup itu ke lehernya. Saking buru-burunya, ia tak sengaja mengikat terlalu kencang hingga lidahnya melompat, keluar dari mulut sendiri. Untungnya, lidah itu segera tumbuh lagi beberapa saat setelah lepas.
Tugas malaikat itu selesai, ia lalu undur diri pada Tuhan, bukan pada Semaun. Sayangnya Semaun tak serta merta bisa mati dengan tenang. Karena setelah kepergian malaikat itu, datang lagi dua sosok malaikat lain yang bawel dan rewel, dan selalu mencercanya dengan jutaan pertanyaan. Satu kali pertanyaan tak bisa dijawab dengan benar, satu kali pula Semaun merasakan kudapan azab.
***
Pada suatu Jumat, terompet kematian menggelegar nyaring, bumi dan langit bersisa puing-puing, bintang dan bulan berguling-guling, jutaan manusia panik dan pangling. Hari itu, semua makhluk menyaksikan segala usai benar-benar telah usai, telah kandas, telah hilang, dan telah sampai. Semuanya sibuk menyambut kematian yang benar-benar datang di luar dugaan.
Sebentar dan remeh saja semua adegan kehancuran itu karena Tuhan lakon tunggalnya. Semua kehidupan selain kehidupan-Nya dibuat tamat Jumat itu. Dan bagi Semaun, Jumat itu adalah hari terakhir ia mengudap azab bawah tanah. Tapi, episode baru segera dimulai saat ia dan makhluk lain dibangkitkan untuk berdesak-desakan di suatu padang yang maha luas. Padang itu lebih luas dari luas yang terpikirkan oleh otak terluas.
Baca juga: Ke Mana Perginya Kucing-Kucing – Cerpen Erwin Setia (Haluan, 25-26 Agustus 2018)
Kain kafan yang melingkar di tubuh Semaun telah compang-camping terkena bekas sudutan, cambukan, hantaman dan pembakaran. Sedangkan sehelai kafan di lehernya masih terikat kuat. Di antara banjir makhluk di padang itu, Semaun berletih-letih jalan sendiri. Melaut jumlah manusia mati yang dihidupkan lagi, belum seorang pun yang Semaun kenali.
Barulah di salah satu sudut padang, Semaun melihat Rinto mengesot sambil menenteng sebuah buku. Kafan yang melilit di badan Rinto juga compang-camping, di lingkar lehernya terlilit pula kalung kafan riwayat hidup. Semaun kaget saat menyadari buku yang ditenteng Rinto adalah buku catatan piutang kebanggaannya.