“Kenapa kau tidak mencari perempuan lain?” Kata Anjani masih memelukku.
Seharusnya Anjani tidak perlu bertanya seperti itu karena ia tahu aku sangat mencintainya dan sudah berkali-kali aku bilang ingin melamarnya. Tapi setiap kali aku mengutarakan niat itu Anjani selalu berkata bahwa aku tidak perlu buru-buru melamarnya. Anjani bilang aku harus punya pekerjaan lebih dulu, sebab kalau sudah menikah ia tidak ingin merepotkan orangtua. Ia ingin membangun rumah dengan halaman depan penuh bunga-bunga, sedangkan di halaman belakang akan dibangun taman kecil untuk bersantai setiap pagi sebelum berangkat kerja dan sore hari sepulang kerja.
Kami pernah berencana ingin segera membuat anak setelah menikah. Anjani ingin memiliki dua anak karena menurutnya proses melahirkan sangat susah. Nyawa yang jadi taruhan. Tapi aku selalu menginginkan lebih dari dua anak agar rumah tidak sepi seperti kuburan. Di lain waktu, saat kami buru-buru masuk kamar karena dada sudah dipenuhi hasrat ingin bercinta, Anjani mengatakan hal lain bahwa ia tidak ingin buru-buru punya anak. Setelah menikah Anjani ingin kami berbulan madu ke Bali, menjelajahi tempat-tempat bagus di dunia, dan setelah puas berpetualang barulah ia ingin punya anak. Tetapi anehnya, setiap kali aku bilang ingin melamar, Anjani selalu memasang raut wajah lain dan menyuruhku untuk tidak buru-buru mengambil keputusan itu.
Baca juga: Huruf – Cerpen Midadwathief (Radar Banyuwangi, 01 Juli 2018)
“Aku dijodohkan. Seorang laki-laki sudah melamarku. Aku minta maaf karena baru memberitahumu sekarang,” kata Anjani. Ia mengatakannya dengan lancar seolah tanpa menyimpan kesedihan atau ketakutan akan kehilangan.
Perjodohan itu, kata Anjani, sudah dua minggu yang lalu. Anjani tidak kuasa menolak lamaran itu karena laki-laki yang melamarnya masih terhitung kerabat meski jauh. Terlebih lagi perjodohan itu keinginan dua keluarga dan Anjani tidak bisa menolak. Laki-laki yang melamarnya bekerja di sebuah pabrik semen dan sudah memiliki pendapatan tetap setiap bulan. Anjani memang tidak bilang bahwa penerimaan atas pertunangan itu bukan karena laki-laki yang datang kepadanya sudah memiliki masa depan yang mapan. Tapi aku bisa mengambil kesimpulan sendiri dari cerita yang Anjani katakan.
Aku terhenyak mendengar cerita itu. Bagaimana bisa Anjani baru bercerita sekarang dan kenapa, kalau sebenarnya ia tidak menyukai laki-laki itu, Anjani tidak bercerita kepadaku sebelum atau segera setelah pertunangan itu terjadi? Kami masih berpelukan ketika Anjani bilang ia menunggu waktu yang tepat untuk bercerita dan ia pikir sekaranglah waktu yang ia tunggu-tunggu itu.