Lidah api menjilat-jilat udara. Menebar bau kenangan. Anjani tidak tahu bahwa aku membakar setiap kenangan bersamanya. Itu kulakukan semata untuk menghapus semua jejak Anjani sekaligus melampiaskan rasa sakit yang seketika menjelma kebencian yang teramat sangat. Semua yang berbau masa lalu dengan Anjani satu per satu ditelan api. Aku tidak bahagia melihat api bekerja menelan setiap kenangan, tapi aku merasa mungkin semuanya akan baik-baik saja setelah ini.
Aku berjongkok di sisi api yang berkobar, membuka kotak berisi foto-foto Anjani, memperhatikan foto-foto itu sejenak seolah menghadirkan kembali wajah Anjani yang cantik dan giginya yang gingsul, lalu aku lemparkan satu per satu foto-foto itu ke dalam api. Selepas itu aku mengambil buku catatan harian, satu-satunya kenangan Anjani yang masih belum aku bakar. Aku copot satu per satu kertas buku catatan itu, lalu kuserahkan pada api yang menyala-nyala. Merah api membias ke wajah. Apakah ini yang bernama kebencian, panas seolah membakar diri sendiri?
Baca juga: Azan untuk Bapak – Cerpen Haryo Pamungkas (Radar Banyuwangi, 19 Agustus 2018)
Satu kertas terakhir berada di ujung jari-jari. Api terus menyala seolah menggambarkan kobaran kebencian di dalam dada. Aku sangat takjub melihat api menelan setiap kenangan indah tentang Anjani, tentang hubungan kami yang sudah berjalan lima tahun, yang di sepanjang tahun-tahun itu kami selalu berusaha mengesampingkan ego masing-masing agar hubungan tetap utuh. Itu waktu yang tidak sebentar. Tapi api hanya butuh waktu sekejap untuk melenyapkan semuanya.
Kuserahkan kertas terakhir catatan harian Anjani pada api yang menyambutnya dengan riang untuk meniadakan segala yang tersisa. Aku tetap tidak merasa bahagia. Tapi api telah mendatangkan kebebasan karena tak ada lagi yang perlu aku kenang.
Malang, 2018
Latif Fianto, lahir di Sumenep. Cerpennya, “Kota Agats” juara 3 Festival Sastra Islam Nasional, FLP Makasar, 2015. “Perempuan yang Berdiri Sepanjang Waktu” masuk sepuluh pemenang Lomba Cerpen Kisah-Kisah Kota Lama Semarang, 2016. Menulis buku Propaganda dan Opini Publik, Forind, 2016.