Api Kenangan

Pertemuan indah yang aku bayangkan pecah berkeping. Bahkan aku merasa seperti sedang menunggu detik-detik kematian saat tahu Anjani sudah menyukai tunangannya. Anjani dengan mantap menganggukkan kepala ketika aku bertanya sekali lagi apakah ia menyukai laki-laki itu. Tanpa meneteskan air mata, mungkin pura-pura tegar dengan kesedihan yang tengah melanda kami, Anjani mengatakan hal-hal yang menurutku malah membuka rahasia kenapa ia selalu tidak antusias saat aku bilang ingin melamarnya: bahwa Anjani sebenarnya sangat mencintaiku dan menginginkan kami hidup bersama, memiliki rumah sendiri, punya dua anak, namun saudara perempuan dan orangtuanya tidak ingin ia menikah denganku karena aku dilahirkan dari suku berbeda, bahwa aku, dengan mengambil kesimpulan sepihak, pasti mewarisi watak suka bergonta-ganti istri, memiliki watak keras dan suka menyelesaikan masalah dengan carok, bertarung satu lawan satu menggunakan celurit. Aku berusaha meluruskan pandangan keliru itu, meski yang aku lakukan tidak akan berpengaruh apa-apa pada hubungan kami.

“Intinya,” kata Anjani, “hubungan kita harus berakhir. Aku sudah punya tunangan dan kini aku harus pergi.” Anjani melepas pelukannya dan tanpa melihat ke dalam mataku ia pergi.

Sepeninggal Anjani aku bergeming di kursi. Meja masih penuh makanan dan minuman. Aku tak sempat menyentuh hidangan apa pun di atas meja karena kerinduan pada Anjani telah mengalahkan segalanya. Sebenarnya aku tidak merasakan sedih teramat dalam karena cinta berarti juga keikhlasan untuk melepaskan. Tetapi saat Anjani mengatakan menyukai laki-laki yang melamarnya, rasa sakit tiba-tiba menghunjam palung dada. Detik-detik kematian terasa semakin cepat mendekat. Bagaimana bisa Anjani dengan tanpa beban mengatakan telah menyukai laki-laki itu sementara hubungan kami masih belum sempurna berakhir?

Baca juga: Ada yang Mencuri Imajinasiku – Cerpen Eni Kusuma (Radar Banyuwangi, 12 Agustus 2018)

Seumur-umur aku belum pernah memesan rasa sakit, tapi malam ini perasaan itu datang sendiri seperti burung gagak hitam yang ingin mencabik-cabik tubuhku. Aku pulang ke rumah dan langsung masuk kamar. Aku menuju rak dan mengambil buku-buku pemberian Anjani saat aku berulang tahun. Ada dua novel yang aku terima darinya. Lembar bertuliskan ucapan selamat ulang tahun dan nama Anjani kurobek dari dua novel itu. Setiap potongan kertas, tiket bioskop, kartu ucapan selamat ulang tahun, gantungan kunci, kotak hadiah, kaus pemberian Anjani yang dibeli saat pergi ke Padang, kaus batik, lukisan, foto-foto, buku catatan harian, selimut, semua kubawa ke halaman belakang rumah untuk kubakar hingga tidak tersisa.

Arsip Cerpen di Indonesia