Setiap hari, tepat pukul sembilan pagi—setelah menghabiskan segelas susu full cream, susu favoritnya sepanjang masa, dan dua tangkup roti tawar tanpa selai—nenekku keluar rumah. Ia mendatangi pintu tetangga yang selalu tertutup karena alasan keamanan dan memanggil sebuah nama dan sebuah pintu dan sebuah nama lagi, lagi, lagi, hingga terbentuk sebuah gerombolan kecil.
Bila kebetulan hari libur, aku kerap menangkap ibuku mengawasi nenekku bersama klub gosipnya dari celah jendela yang sengaja ia tutup. Lalu, tak lama, ia mengucapkan sesuatu seakan apa yang dilakukannya itu sebuah dosa dan ia bergegas pergi ke dapur untuk mencari-cari pekerjaan agar pikirannya yang gelisah bisa tenang. Ibuku memang tak punya kesibukan lain sejak ia menikah. Ia hanya ke rumah ibadah dan tak lagi terlibat kegiatan di luar kewajiban itu. Kata ibuku, “Aku tak bisa membagi pikiranku ke mana- mana.” Aku memahami ibuku yang serba total dalam kehidupan ini. Ia tak pernah memegang dua hal dalam satu tangannya. “Padahal, Ibu bisa saja melakukannya,” kataku. “Tidak, tidak, itu tidak benar,” sahut ibuku. Lalu, aku menemukan mata Ibu yang sendu. Seakan-akan ada yang ia simpan dalam-dalam di mata itu dan ia tak mengizinkan siapa pun untuk menyeldikinya. “Nenekmu makin keterlaluan akhir-akhir ini,” kata ibuku kemudian. Aku tahu maksud ibuku. Belakangan Nenek dan klubnva membuat beberapa keluarga bertengkar dan ibuku mulai mengkhawatirkan sepak terjangnya di luar sana.
“Kita bisa apa?” kataku.
Ibuku menggedikkan bahunya. Wajahnya diselimuti kebingungan. Buru-buru ia menghidupkan air keran. Tangannya mengambil piring yang tergeletak di wastafel—sebuah piring yang lupa dicuci oleh adikku sehabis makan sesuai peraturan di rumah kami. Ibuku menyabuni piring itu dan sepertinya ia sengaja melakukannya berlama-lama.
“Ayah mungkin bisa bicara kepada Nenek,” kataku.
Ibuku lekas membalikkan badan. Air keran dibiarkannya tetap hidup. “Ayahmu? Memangnya kita bisa berharap apa pada ayahmu soal ini?” katanya nyaris menjerit seolah-olah ia baru saja mendengar sesuatu paling tidak mungkin terjadi. Aku tidak tahu harus bicara apa lagi. Ibuku kembali menghadap ke wastafel dan melanjutkan mencuci piring.
Aku tahu ayahku tidak akan pernah menentang ibunya sendiri. Lelaki itu sepenuhnya di bawah kekuasaan nenekku. Ayahku punya banyak kesempatan untuk membebaskan dirinya, menunjukkan kepada nenekku bahwa ia sudah puluhan tahun melepaskan masa kanak-kanaknya dan nenekku harus tahu itu. Namun, ayahku terlalu menyayangi perempuan tua itu. “Jangan pernah lukai hati nenekmu,” kata ayahku suatu kali. Kalimat itu kurang lebih bermakna: sayangilah ia selalu, tanpa batas.
***