Selama adikku sakit, ketegangan antara nenek dan ibuku makin tinggi. Ayahku makin berlama-lama di toko atau di rumah temannya atau ia akan girang sekali jika mendengar sebuah kabar kematian dan ia akan melakukan tugasnya berkeliling mengumpulkan dana kesedihan. Kadang, ia pulang sudah sore sekali dan tak jarang mendapati ibuku sudah memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper dan membicarakan tentang perpisahan. Namun, ayahku selalu bisa meyakinkan ibuku bahwa mereka ditakdirkan untuk menjalani kehidupan ini bersama-sama dan ibuku menangis dan ayahku memeluknya.
Adikku akhimya sembuh juga dari sakitnyu. Ia sudah bersiap-siap kembali ke sekolah dengan kulit tubuh berbintik-bintik hitam. Kata ibuku, “Biar semua orang tahu bagaimana Tuhan menghukum seorang pendosa.” Kata nenekku, “Apa yang kaubicarakan tentang cucuku?” Kata ayahku, “Aku harus cepat-cepat pergi ke toko.” Kataku, “Sebaiknya aku sarapan di sekolah saja biar tidak terlambat.”
Dari hari ke hari, aku makin giat belajar dan semakin menyukai buku-buku. Ayahku menyemir rambutnya yang mulai beruban. Ibuku makin tidak banyak bicara, kecuali menyangkut sesuatu yang penting.
Satu-satunya yang membuat rumah kami terasa hidup—aku harus mengakui itu—bila nenekku mendadak muncul di pintu dan berteriak, “Kalian tahu….” ***
Rumah Kinoli, 17/18
Yetti A.KA, tinggal di Padang, Sumatra Barat. Buku kumpulan cerpen terbarunya Pantai Jalan Terdekat ke Rumahmu (2017).