Lidah

“Ya. Karena ibu adalah bulan, Sayang.”

“Wah … Ibu keren.”

“Raina ingin menjadi bulan juga!”

“Ah. Sabrina juga!”

Sedangkan di luar, setiap mulut selalu berbicara tentang kehidupan seorang pelacur itu. Dan cerita yang berkembang akan selalu berbeda dalam bentuk maupun versinya.

Dan selama Tuhan terus menciptakan lidah, orang-orang akan selalu sibuk bertanya kepada seseorang yang lain, adakah seorang lakl-laki yang ingin menikahinya, menjadi ayah bagi anak-anaknya?

Baca juga: Gadis yang Membungkus Hujan – Cerpen Alif Febriyantoro (Media Indonesia, 25 Maret 2018) 

“Mana ada laki-laki yang mau menikah dengan pelacur!” ucap seorang pengangguran.

“Jika mau, laki-laki itu bodoh!” tukas yang lainnya.

“Tapi ada juga loh yang mau.”

“Entahlah.”

Sebetulnya, sudah banyak laki-laki yang bersedia untuk menikahinya, dari seorang politisi, polisi, tentara, bahkan germonya sendiri.

“Kenapa kau tak ingin menikah?”

“Sudah aku katakan berkali-kali, aku tak mau terjebak kembali dalam lidah laki-laki.”

“Tapi aku serius ingin menikahimu.”

“Serius?”

“Serius!”

“Lidah memang manis. Semanis racun!”

Tapi benarkah ia tak ingin menikah? Apakah cinta saja sudah cukup sempurna tanpa pelukan hangat seorang kekasih?

“Apakah kau yakin tak ingin menikah?” ucap laki-laki yang lain.

“Ya.”

“Kenapa?”

“Sudahlah! Aku sudah muak dengan pertanyaan yang selalu diulang-ulang oleh lidah laki-laki.”

***

Di gerbong kereta nomor 4, terlihat sepasang kekasih sedang bercakap-cakap. Mereka sedang membicarakan kelanjutan hubungan yang tengah mereka jalani. Tetap di nada yang sama dalam sebuah peristiwa ketika sepasang kekasih sedang mengalami masa-masa paling dramatis dan romantis.

Baca juga: Lukisan Jembatan – Cerpen Alif Febriyantoro (Solo Pos, 12 Agustus 2018)

“Hubungan kita sudah berjalan lebih dari empat tahun.”

“Ya. Benar sekali.”

“Aku akan menikahimu!”

Lengang.

“Benarkah?”

Arsip Cerpen di Indonesia