Lidah

Wanita berbaju lengan hitam panjang itu tampak kaget ketika menjumpai pernyataan kekasihnya.

“Tentu saja!”

“Kapan?”

“Setelah kereta ini tiba di stasiun terakhir.”

“Aku sudah menyiapkan semuanya,” lanjut laki-laki itu.

Oh, tapi seburuk apakah perasaan seorang pelacur yang sejak tadi mendengarkan dengan jelas percakapan sepasang kekasih itu?

Sebelum kereta yang ditumpanginya itu berhenti, cerita yang seakan diulang-ulang ini tak akan pernah menemui ujungnya.

Namun kereta akan terus melaju, melewati berbagai macam suasana yang tak selalu sama. Dan ketika kereta sudah tiba di stasiun terakhir, semua penumpang kereta akan tahu bagaimana situasi ini akan berakhir. Sebab setiap perjalanan hanya berjalan satu kali. Sebab waktu, ia tak akan pernah mengulang yang sudah. Atau menemui kembali detik-detik sebelumnya.

Baca juga: Hikayat Perahu – Cerpen D Hardi (Banjarmasin Post, 12 Agustus 2018)

Dalam hati, seorang pelacur itu berkata, “Jangan percaya dengan perkataan laki-laki!”

“Omong kosong! Memang awalnya terasa manis. Tapi lihat saja, ujung-ujungnya, lidah laki-laki itu akan membawamu ke palung kehancuran!”

Sebentar lagi kereta akan sampai di stasiun terakhir. Dan seorang pelacur itu akan segera menemui kedua anak gadis kembarnya. Ia tak sabar ingin melihat wajah keduanya. Wajah yang lugu dan polos, yang masih dalam kedaan terlelap.

Pelan-pelan, ia kembali mengalami lamunan. Pelan-pelan, kedua matanya sedikit terpejam. Dan dalam keheningannya sendiri, ia pun tertidur. “Raina, Sabrina!?”

“Kenapa kalian bisa ada di sini?”

Ia tahu bahwa ia hanya bermimpi. Dan dengan cepat ia kendalikan pikiran alam bawah sadarnya menjadi sebuah peristiwa yang dapat ia nikmati sendiri. Maka ia mengembuskan napas dengan nada yang terdengar cukup tenang. Tetap dalam keadaan mata yang tertutup. Seakan-akan memberi kesaksian untuk orang-orang yang berada di sekitarnya, bahwa ia hanya lelap dalam tidurnya sendiri. “Raina takut, Ibu!”

“Sabrina juga!”

Lantas keduanya memeluk ibunya.

“Takut kenapa?”

“Di rumah, ada orang yang tidak kami kenal. Orangnya tinggi. Laki-laki itu pakai kalung dengan mainan mirip lidah yang tergantung di talinya.”

“Laki-laki itu mencari ibu.”

Arsip Cerpen di Indonesia