Dalam beberapa detik, mimpi yang dialaminya itu terasa hening, dingin, dan begitu menggigil.”
“Sudah, sana kalian tidur lagi.”
“Ah. Raina tidak mau kehilangan ibu!”
“Sabrina juga!”
“Ini hanya mimpi, Sayang.”
Ia memeluk kedua anaknya yang terlihat begitu cemas dan ketakutan, membenarkan rambut keduanya yang berantakan, lalu membasuh kening mereka yang berkeringat.
“Tapi kami tidak bohong, Ibu!”
“Orang itu mengikuti kami sampai ke sini.”
Sejenak Arina terdiam. Nama pelacur itu adalah Arina, sebuah nama yang baru saja terpikirkan. Dan akhirnya ia menjumpai kegelisahan paling puncak dalam mimpinya sendiri.
Baca juga: Bunting – Cerpen Lailatul Badriyah (Banjarmasin Post, 29 Juli 2018)
Arina seperti menatap jurang yang dalam, kemudian jurang itu menatap balik. Begitulah yang ia rasakan ketika melihat seorang laki-laki yang dikatakan kedua anaknya itu sudah berdiri tegap di hadapannya. Benar saja, laki-laki itu adalah kekasihnya di masa lalu. Tapi dengan keyakinannya, ia terus saja mengatakan dalam batinnya bahwa ia hanya bermimpi.
“Oh, tidak!”
“Tidak mungkin!”
“Aku yakin, ini hanya sebatas mlmpi.”
“Cepat pergi! Jangan ganggu aku lagi!”
“Aku sudah bahagia dengan kedua anak kembar ini!”
Tentu saja laki-laki itu tak akan mengatakan apa-apa kepada Arina. Tapi kedua anaknya itu mendengar dengan jelas, laki-laki itu mengatakan sesuatu kepada mereka. Sesuatu yang tak mungkin mereka mengerti apa maksudnya.
“Hanya kalian yang bisa mendengarkan saya berbicara. Maka tolong sampaikan pesan ini kepada ibu kalian: Dengan lidah yang sudah terpotong ini, Ayah akan membawa kalian semua ke surga.”
“Ayah!?”
Seperti percikan cahaya pada ruang gelap, bagian ini seakan-akan pecah begitu saja, menembus jendela, keluar dari gerbong kereta, dan hilang bersama bagian-bagian sebelumnya.
Dan akhirnya kereta sudah tiba di stasiun terakhir. Arina terbangun dari mimpinya. Keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Ia membuka mata lebar-lebar. Di hadapannya,ia melihat seorang laki-laki sedang sibuk menahan rasa sakit. Potongan lidahnya tergeletak di bangku penumpang. Darah segar membasahi mulut dan juga bajunya. Tapi Arina, ia hanya lewat dan tak merasakan apa-apa. ***
Alif Febriyantoro, kelahiran Situbondo, 23 Februari 1996. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya 60 Detik Sebelum Ajal Bergerak (2017). Domisili di Jember.