Lelaki Bermata Teduh

Mulut pemuda yang kuduga intelek ini ternyata brengsek. Terlebih ia mengatakan itu dengan sedikit tertawa, seolah ingin memamerkan olokan murahannya di depan gadis cantik tersebut. Sungguh menjengkelkan. Baru kutahu rupanya ketika seorang lelaki berada di depan wanita, ia akan lupa diri sehingga berlagak semaunya. Termasuk menghinaku yang baru pertama kali ini bertemu dengannya. Karena tak berminat menimpalinya, aku pun berlalu di hadapannya tanpa meninggalkan sepenggal komentar.

Sekitar sepuluh meter dari tempat si pemuda brengsek dan pacarnya itu, mataku menangkap sebuah tempat duduk yang masih kosong di bawah pohon kenari yang cukup tinggi. Aku segera mendaratkan bokong di sana dan melepas tiga lukisan yang berukuran sedang di samping kananku, lalu mulai mengipas-ngipas wajahku yang rasanya sudah gosong dengan sengatan matahari.

Pohon kenari yang menaungi dudukan ini membuat suasana menjadi rindang. Ternyata salah satu makhluk yang paling baik saat matahari sedang meluapkan energinya adalah pohon. Udara segar mulai bertiup. Aku berhenti mengipas wajah. Dan aku mulai menghimpun pikiran agar bagaimana lukisan-lukisan ini bisa laku terjual. Aku coba mengingat-ingat beberapa pedagang yang kutemukan di perempatan barusan, dengan maksud mengikuti jejak penjualan. Seperti beberapa penjual koran itu, misalnya. Namun, setelah berpikir-pikir, kebutuhan orang akan koran dan lukisan tentu berbeda. Meski tak selaris makanan, tapi setidaknya koran selalu dibutuhkan orang banyak. Orang pintar lah setidaknya. Dengan begitu, aku tak dapat meniru trik berjualan dari rekan-rekan penjual koran.

Baca juga: Matinya Penyembah Puisi – Cerpen Ken Hanggara (Rakyat Sultra, 19 September 2018)

Aku memindahkan konsentrasi seorang lelaki pedagang mainan anak-anak yang juga kutemukan di perempatan yang sempat kusinggahi tadi. Akan tetapi, nasib pedagang mainan denganku tak jauh berbeda. Selama menjajalkan dagangan di dekat lampu lalu lintas tadi, tak satu pun para pengendara atau pengguna jalan lainnya yang kulihat membeli mainan. “Ah, Om itu juga bernasib sama denganku. Mana bisa aku mengikuti trik jualannya,” gumamku sambil senyum-senyum sendiri.

Karena tak dapat menemukan solusi, aku pun berhenti mencari cara menjual lukisan-lukisan ini. “Yang penting tetap berusaha dan tak mudah bosan, suatu waktu orang pasti mulai tertarik dengan lukisan-lukisanku,” pikirku sembari meraba ingatan tentang waktu aku mulai suka melukis.

Saat itu aku tengah berada di kelas empat SD. Pertama kali melukis atau tepatnya menggambar, alat yang kugunakan adalah pensil krayon yang dibelikan Ibu. Karena keinginan kuat untuk melihat wajah asli Ayah, aku pun menggambar sketsa wajahnya.

Arsip Cerpen di Indonesia