Lelaki Bermata Teduh

“Ini gambar siapa?” tanya ibunya saat itu.

“Ini gambar Ayah, Bu.”

“Dari mana kamu tahu wajah ayahmu seperti ini?”

“Aku lihat foto Ayah di dalam laci Ibu.”

“Kurang ajar. Sembarang saja kamu buka-buka laci Ibu. Itu bukan ayahmu. Ayahmu sudah mati saat kamu dilahirkan. Lagi pula, wajahnya tak setampan itu. Kalau kamu mau melihat wajah ayahmu, pergilah ke kebun binatang. Udah, daripada kamu gambar dia, lebih baik kamu gambar Om Bery saja yang lebih kaya dan keren!” bentak Ibu.

Aku hanya diam ketika Ibu mencercaku. Entah kenapa setiap kali menyinggung soal Ayah, Ibu selalu geram dan berkata kasar. Aku memang tidak tahu di mana Ayah berada, tapi aku yakin bahwa foto yang kutemukan di dalam laci Ibu saat itu adalah dia. Karena aku merasakan semacam ikatan batin yang sangat erat ketika menatap foto laki-laki berwajah tirus dalam selembar kertas itu.

Baca juga: Sulur – Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sultra, 15 Agustus 2018)

Aku ingin sekali bertemu Ayah. Namun, sampai kapan pun hal itu sepertinya tak mungkin dapat kulakukan. Sebab, setiap kali menyebut kata Ayah, Ibu pasti bilang dia sudah mati. Dan mengenai Om Bery yang disebut-sebut Ibu itu, adalah laki-laki yang belakangan suka main ke rumah. Aku sendiri tak mengerti kenapa laki-laki bertampang berang itu suka main dan sesekali menginap ke rumah, meski sebelumnya Ibu juga sering kedatangan tamu laki-laki beraneka rupa dan sikap pada diriku. Dan pada akhirnya, laki-laki yang bernama Bery itulah yang mengajak Ibu kabur entah ke mana.

Sejak itulah aku bebas menggambar wajah Ayah di atas buku gambar. Aku tak tertarik menggambar Ibu. Karena dia suka galak dan kadang memukulku jika wajahnya sudah berubah merah. Terlebih dia sudah meninggalkanku dan memilih pergi bersama laki-laki bertubuh gempal bernama Bery itu. Untung saja ada Paman Salim yang beberapa saat setelahnya membelikan kuas, palet, cat air, kanvas, dan peralatan lukis lainnya yang serba seadanya untuk mendukung hobiku.

“Kamu sedang menunggu siapa, Nak?”

Lamunanku tiba-tiba terbangun dengan pertanyaan sesosok laki-laki yang berdiri di depanku bersama seorang perempuan cantik. Aku mendongak dan mengedipkan kedua mata. Perasaanku terasa tak karuan dengan kehadiran laki-laki bermata teduh ini, seolah wajahnya tak asing di mataku. “Aku tidak menunggu seseorang. Tapi aku sedang berjualan, Pak,” sahutku tergeragap.

Arsip Cerpen di Indonesia