“Oh ya, berjualan apa?”
“Aku menjual lukisan, Pak.”
“Boleh aku lihat?”
Bapak yang kuduga berusia 40-an tahun tersebut sepertinya mulai tertarik setelah melihat dan memegang salah satu lukisanku. Akan tetapi, ia juga terlihat aneh setelah memperhatikannya lebih detail, seperti sedang menemukan sesuatu yang dicari sejak dulu dan tak diduga ditemukannya sekarang. Ia pun memintaku mengambil lukisan lainnya. Namun, wajahnya tambah tertegun setelah kusodorkan dua lukisan lainnya.
“Kenapa, Pa?” tanya perempuan berkulit putih bening yang berdiri di sampingnya. Sepertinya ia merasa ada yang aneh dengan gelagat suaminya.
“Ah tidak ada, Ma. Papa suka aja sama lukisan ini. Oh ya, berapa harganya, Nak?” tukasnya mengalih perhatian kepadaku.
Baca juga: Kawali dan Pistol – Cerpen Alfian Dippahatang (Rakyat Sultra, 17 September 2018)
“Seratus ribu per lukisan, Pak.”
“Aku ambil semuanya, ya.”
Laki-laki berpakaian perlente dan serba abu di depanku ini kemudian mengulurkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu, lalu segera beringsut bersama istrinya.
“Pak, Pak, uangnya lebih!” pekikku setelah menghitung jumlah uangnya. Ternyata sebanyak lima ratus ribu rupiah.
“Ambil semuanya buat kamu.”
Ia terburu-buru masuk ke dalam mobil. Sementara, istrinya masih memandangku heran dan tak mengerti sama sekali dengan apa yang sedang terjadi pada suaminya. Aku sendiri masih menekuri mobil sedan berwarna hitam mengkilat yang mereka kendarai. Entah kenapa kehadiran laki-laki pembeli itu membuatku merasa begitu nyaman. Aku meraba pipiku untuk memastikan apakah ini benar-benar terjadi ataukah sedang bermimpi? Huuuh, aku baru sadar rupanya dia mirip dengan laki-laki bermata teduh yang kulukis sejak dulu. Mungkinkah dia adalah orang yang kucari-cari selama ini? Ah, mustahil. Matahari sudah mulai menyingsing di ufuk barat. Sebaiknya aku segera pulang, lalu mandi bersih dan makan besar dengan uang lima ratus ribu rupiah ini. Paman Salim pasti senang.
Lombok Tengah, 23 Juli 2018
Marzuki Wardi, menulis cerpen, esai, dan resensi. Bermukim di Lombok, NTB