Sensei dan Aku

“Perempuan kecil sepertimu tak perlu ikut apa yang orang dewasa omongkan,” katanya.

Seharian aku cemberut karena perkataan obachan. Masih saja dia berpikir aku anak kecil padahal usiaku sudah delapan belas tahun.

Tapi kedongkolanku terbayar. Sesore itu aku memasang wajah ketus di sekitar ruangan Sensei, sampai dia sadar saat meletakkan kuas dan mengamatiku membersihkan barang-barangnya. Lalu kuutarakan segalanya. Sebab kenapa aku begini.

“Kita bisa mengobrol saat ayahmu sudah selesai berbincang denganku. Selalu begitu kan?”

“Tapi aku bukan anak kecil!”

“Ojosan, aku tak pernah menganggapmu anak kecil. Nenekmu terlalu sayang padamu sehingga omong seperti itu.”

“Ya, kalau dipikir sih begitu. Namun usiaku sudah delapan belas tahun.”

“Kau temanku, aku senang bisa datang ke sini dan bertemu denganmu, Ojosan. Kita bisa berbincang kapan pun seusai ayahmu dan aku. Selalu begitu kan?”

Mendengar jawaban yang diulangnya ini, aku jadi malu sendiri. Aku cuma mengangguk. Membuang air di vas shigaraki di atas meja kerjanya dan menggantinya dengan yang baru. Kuletakkan beberapa bunga seperti lavender dan sumire.

“Ojosan suka merangkai bunga?”

“Tapi tidak sehebat almarhumah ibuku.”

“Oh, aku tak begitu tahu seni macam itu.”

“Begitu pun aku. Saat Sensei memperlihatkan tulisan-tulisan Sensei yang rumit, aku tak mengerti betul. Menurutku, semua bagus.”

“Kurasa tulisanku ada yang kurang. Aku terlalu kaku dan tetap berada dalam pakem selama ini. Aku harus menemukan gaya sendiri dan memulainya sungguh sulit.”

“Terdengar sukar, tapi aku akan menyemangati Sensei.”

Dari hari ke hari aku senang Sensei menerimaku dan tak pernah merasa terganggu meski aku muncul di waktu-waktu sembarang. Kadang mengganti bunga di pagi atau siang hari, lalu muncul di sore hari dan mengganggunya yang sibuk menulis, atau aku tiba-tiba mengetuk kaca jendelanya dan tersenyum. Semua itu merekatkan kami dan Sensei tak pernah sekali pun marah. Dia tenang dan selalu menerima diriku sebagai kawan mengobrol.

“Ibu Ojosan pasti sesemangat dirimu.”

“Ibu selalu memarahiku. Waktu kecil aku tak bisa diam di rumah.”

“Tapi sekarang sudah tak banyak tingkah?”

Pertanyaan Sensei membuat mukaku merah. Aku menyembunyikan wajahku di balik lengan.

“Aku sudah berubah. Aku sudah dewasa, Sensei!”

Sensei tertawa.

“Maafkan aku.”

Aku mengajak Sensei ikut mendoakan ibuku di butsuma [6].

“Eh, apa tidak masalah? Aku orang luar.”

“Sensei bicara apa, sudah beberapa minggu ada di sini kan. Ibu pasti senang Sensei ikut berdoa bersamaku.”

Arsip Cerpen di Indonesia