Aku merasa festival malam itu bagian terindah dalam hidupku. Obachan tertinggal jauh di belakang bersama ayah, dan aku bersama Sensei menikmati yakisoba [8] dan ikayaki [9] yang amat dia suka kalau festival musim panas. Di akhir festival kami menonton kembang api yang diluncurkan ke langit. Sedekat itu aku dan Sensei, rasanya tak ingin hari berubah dan selamanya begitu.
“Indah, aku selalu suka kembang api di malam musim panas,” ujarnya.
Aku hanya menatap ekor mata Sensei yang memperlihatkan ketakjubannya kala mendongak menonton kembang api di angkasa. Refleksi pendar kembang api tampak di mata Sensei. Meski sedikit kuketahui dari ujung matanya. Tak kuperhatikan cahaya terang di atas kami. Aku terus menatapnya tanpa dirinya sadar atau barangkali membiarkan diriku melakukan itu.
Aku ingin Sensei melihat tsubaki mekar di musim dingin kali ini bersama denganku, akan tetapi dia tiba-tiba pergi dengan meninggalkan kaligrafi dan sebuah surat pendek yang ditempelkan di balik tulisan itu.
“Tunggu aku, Ojosan.”
Ketika aku bertanya pada ayah, Sensei pulang ke Kamakura karena urusan keluarga. Kapan dia balik ayah tidak tahu.
“Sensei pasti kembali ke sini, kau tenang saja.”
Musim dingin terasa sepi, Sensei tak kunjung kembali ke Fukuoka. Aku merasa dia meninggalkanku terpuruk di sini. Seolah berita-berita di luar sana terlewat begitu saja, meski negeri ini dalam keadaan kritis. Diriku hanya terpacu untuk menunggu Sensei sampai-sampai segalanya tak kupedulikan.
Aku membayangkan diriku dan Sensei berdoa di malam tahun baru dan minum amazake [10]. Namun pergantian tahun dengan genta kuil berdentang sepanjang malam tak membuat Sensei kembali. Malam tahun baru yang kulewati di rumah sendirian menyusuri lorong dan tercampak di taman menunggu bulan atau suara genta berikutnya.
Setiap hari aku membersihkan ruangannya dan mencari jejak kehadiran dirinya, tapi tetap saja, segalanya sia-sia.
Harapanku, aku dan Sensei bisa menikah sebab telah jelas semua perasaan di antara kami. Namun itu semua buyar. Di awal musim semi ayah menerima negosiasi keluarga Toshihiro dan putra pertama keluarga itu, Teru, dijodohkan denganku. Saat aku menangis dan bertanya berkali-kali pada ayah, dia tak kuasa menjawab dan memelukku. Baru aku tahu alasan ayah menerima pinangan itu karena keluarga kami tengah bangkrut dan satu-satunya penolong adalah keluarga Toshihiro.
Aku menerima perjodohan ini setengah hati. Di satu sisi aku membenci Sensei yang tak kunjung balik untuk menikahiku; di sisi lain aku mesti menyelamatkan keluarga. Saat itu keuangan kami memang kacau balau. Itu pun bukan keluarga kami saja. Jepang berlayar dalam kapal tanpa nakhoda. Tak tentu arah demi kejayaan palsunya, itu yang selalu diucapkan ayah dan orang-orang tua sekitarku.
Aku menikah di pertengahan musim semi. Di tengah gugurnya sakura, aku memasuki gerbang hinoki rumah utama keluarga Toshihiro dengan kimono merah. Semerah tsubaki musim dingin. Hatiku telah kosong dan menangis pun tak ada gunanya. Sampai hari itu Sensei tidak datang menyelamatkanku.
Dua tahun berselang, menjelang keberangkatan suamiku bela negara untuk pertama kalinya, aku dapat kabar dari Kagawa-san, agen dan juga teman dekat Sensei, yang menyebut bahwa Sensei bunuh diri dengan merobek urat lehernya menggunakan pedang kabutowari yang pernah diperlihatkannya padaku. Pedang itu baginya merupakan harta berharga hadiah kakeknya saat mereka mengunjungi Daibutsu di Kamakura.
Aku tahu alasan Sensei mati. Aku tahu dia tak punya pilihan. Keluarga adalah segalanya. Alasan yang membuatku tak dapat melanjutkan hidup. Aku berjanji dalam hati, setelah suamiku berangkat perang, aku akan menyusul Sensei, ke sebuah tebing yang ada di Kamakura, tempat yang pernah diceritakannya.
Tunggu aku, Sensei. Kita pasti bisa berbincang seperti dulu lagi.