Aku tahu mata selidik obachan mengawasi kami berdua. Biar pun dimarahi nantinya, aku tetap menggeret Sensei dan kami khusyuk berdoa.
Di lorong tengah aku menyaksikan ayah yang sedang dinasihati obachan di taman. Setidaknya kata-kata yang kudengar adalah: kau tak seharusnya membiarkan putrimu. Yang lainnya tak begitu jelas, aku sembunyi di antara pilar kayu dan tak ingin mendekat. Kupikir obachan marahnya keterlaluan.
Malamnya saat sendirian bersama ayah di taman dekat lentera batu, aku menanyakan hal yang kudengar.
“Kau menguping pembicaraan orang tua ya?”
Aku gelagapan. “Tak sengaja kudengar.”
“Bagi ayah tak masalah kau bergaul dengan Sensei. Asal jangan sampai membuat obachan khawatir. Kau harus tahu waktu.”
“Aku mengerti, ayah. Maafkan aku.”
Setelah mandi dan salin, aku memikirkan ucapan ayahku sepanjang malam. Bulan terang benderang di atas jendela dan benakku mengambang jauh di hari-hari lalu.
Tapi aku melupakan segala yang diucapkan ayah keesokan harinya. Aku mengunjungi Sensei seperti sedia kala, menyiapkan makanan, dan bertanya ini-itu seperti sebelum-sebelumnya. Sensei pun tak keberatan. Aneh saja menghindari orang sebaik Sensei karena obachan tak begitu setuju anak gadis sepertiku dekat dengannya. Aku tak melihat alasan yang genting dari itu semua. Aku menyukai Sensei dan dia pun senang padaku, lantas apa yang perlu dikhawatirkan?
Kupikir hari ini memasang lonceng angin di luar ruangan Sensei akan membuatnya senang. Saat menemani obachan belanja, aku seketika membeli lonceng itu di toko kecil Migi bagian luar kuil yang nantinya digunakan untuk festival malam hari. Dia meledekku karena membeli dua lonceng. Untuk Sensei, tanyanya. Kujawab ya. Jadi sepanjang pulang mukaku berseri-seri sementara obachan cemberut. Aku tak mengindahkan hal ini. Tak sabar aku perlihatkan lonceng yang kubeli kepada Sensei.
Setelah menyiapkan makan siang, aku menuju ruangan Sensei.
“Sensei boleh aku masuk?”
“Ya, silakan.”
“Sensei, aku letakkan furin [7] di depan jendelamu ya?”
“Itu tinggi. Apa kamu bisa. Sini biar aku.”
“Ini.”
Sensei memasang furin pemberianku dengan tepat. Di atas jendela yang menghadap meja kerjanya.
Dan pada malam musim panas kali itu, aku mengajak Sensei ke festival. Sudah kusiapkan yukata sewarna merahnya tsubaki dan aku telah lama merencanakan ini: setelah aku bertemu dengannya di genkan sebulan lalu. Aku sudah membayangkan diriku dan Sensei berjalan di tengah kemeriahan festival.
Jika obachan tahu tentu dia marah, tapi aku merengek di depan ayah dan dia pun membolehkan aku mengajak Sensei. Dengan syarat kami sekeluarga ikut. Awalnya aku keberatan, tapi apa boleh buat.
“Apa obachan masih sanggup berjalan ke kuil di atas bukit?”
“Jangan remehkan nenekmu, kalau alasannya agar kau bisa berduaan dengan Sensei, nenekmu akan ikut bagaimanapun lelahnya.”
Mukaku malu. Ayah tahu aku suka Sensei, dan dari ekspresinya, dia tak keberatan sepertinya.
“Sensei itu orangnya baik,” cetusku.
“Begitulah. Yang kudengar Sensei lahir di Tokyo, tapi sudah lama ikut ibunya di Kamakura karena ayahnya meninggal.”
“Kenapa mereka pindah ayah?”
“Aku tak tahu sebabnya.”