Cerita Nenek

Pernah pula, suatu ketika Nenek aku tawari bubur ayam kesukaanku. Beliau menggelengkan kepala sambil menarik bibirnya ke sudut bawah. Gak enak, katanya. Gak kenyang. “Bikin sakit perut. Dulu gak ada makanan begini. Kami lebih suka nyirih dari pada makan nasi jagung. Apalagi beginian.” Tentu aku merasa aneh dengan jawabannya yang menurutku nyeleneh.

Setelah aku bantu minum, Nenek mempersilakanku untuk duduk lagi. “Suatu pagi, ada satu dari kami kebelet berak. Ia keluar dari persembunyian, hendak buang hajat. Belum selesai buang hajatnya tiba-tiba ada pasukan Belanda lewat. Ia lari terbirit-birit dengan sisa ampas yang belum tuntas. Celana dan pahanya belepotan kotoran. Ia terus dikejar oleh pasukan-pasukan. Sesekali mereka menembak senapannya ke udara. Untung saja dia tidak ditembak.” Nenek berhenti sejenak. Menarik napas dalam-dalam.

Baca juga: Infus – Cerpen Matdon (Pikiran Rakyat, 29 Juli 2018)

“Dia tertangkap, Nek?” Tanyaku tak sabar.

Nenek mengangguk.

“Dibunuh?”

Nenek menggelengkan kepala.

“Dikurung?”

Nenek menggelengkan kepala. Tak lama kemudian ia kembali menarik napasnya dalam-dalam.

“Para prajurit memintanya untuk mengambil kotoran yang berceceran di celana dan pahanya dengan tangan kosong. Lalu…”

“Lalu apa, Nek? Ditembak?” Aku tak sabar. Entah kenapa, Nenek kembali menarik napasnya. Ia memberikan isyarat padaku untuk mengambilkan gelas minumnya yang tadi aku taruh di meja depannya.

Baca juga: Kesempatan Kedua – Cerpen Muhamad Wildan Kemal (Pikiran Rakyat, 05 Agustus 2018)

“Para prajurit memaksanya memakan kotoran itu! Kalau tidak mau akan ditembak kepalanya.”

“Bangsat!” Hentakku tiba-tiba.

Cekatan Nenek mengangkat tangannya dan mengacung-gelengkan jari telunjuknya. Ia melarangku untuk mengumpat.

“Para prajurit merasa terhibur melihatnya. Teman Nenek itu terus dipaksa untuk menelan sampai bersih kotorannya sendiri.”

Aku benar-benar marah, tetapi tak ada pergerakan apa-apa. Aku hanya duduk sambil mengadu gigi kuat-kuat dengan mata melotot. Kedua kepalan tanganku terasa gatal ingin menonjok muka bajingan itu.

Arsip Cerpen di Indonesia