“Setelah merasa puas dengan semua perlakuannya itu, tiba-tiba teman Nenek tersebut ditinggal begitu saja. Mereka tertawa terbahak-bahak. Teman Nenek kabur terbirit-birit menuju tempat persembunyian kembali. Kami mendapatinya dengan mulut celemotan kotoran. Baunya ke mana-mana. Ia menangis. Matanya merah seakan menahan rasa pahit di mulutnya. Sesegera mungkin kami mengelapnya, kemudian membersihkanya dengan sisa air kami semalam. Setelah meneguk air yang kami berikan tiba-tiba badannya lemas. Kayak orang mau pingsan.”
Gigi-gigiku masih saling mengadu. Tanganku mengepal kuat. Rasanya ingin sekali bikin babak belur muka prajurit tengik itu. Napasku mulai tak beraturan. Dadaku naik turun menahan kesal.
“Dan masih banyak cerita penderitaan kami sebelum merdeka, Neng. Banyak sekali.”
“Kami tidak tahu bagaimana cara kami berterimakasih pada Nenek dan para pendahulu. Kini kami sudah merdeka. Sudah bergelimang kenikmatan. Nenek adalah veteran bagi kami meski tidak menyandang gelar tentara atau pasukan khusus. Kesabaran dan kekuatan Nenek bersembunyi di tengah hutan tidak mampu kami balas meski dengan segudang perhiasan.” Aku menangis. Aku bersimpuh di kaki Nenek. Aku peluk kedua kakinya erat-erat. Ia menepuk lembut tengkukku dengan gemetaran.
Baca juga: Warisan dari Kakek – Cerpen Miftah Amarudin (Pikiran Rakyat, 22 Juli 2018)
“Setiap peringatan kemerdekaan seperti ini Nenek selalu teringat teman-teman Nenek. Banyak dari kami yang berhari-hari kelaparan. Banyak dari kami yang mati di ujung senapan. Banyak di antara kami yang jadi pelampiasan nafsu binatang.Cukup dengan kamu datang ke makam para leluhur, Nenek sudah senang melihatnya. Cukup dengan mengirimkan setangkai bunga dan doa-doa, Nenek sudah bahagia. Teman-teman Nenek juga pasti akan bahagia. Terima kasih kamu tidak pernah mengikuti pesta pora di atas penderitaan kami. Terima kasih sudah bertahun-tahun kamu tidak mengikuti penghambur-hamburan makanan dengan dalih perlombaan. Meski hanya kerupuk yang tak seberapa bagimu saat ini, itu akan menjadi sangat berharga bagi kami saat itu. Banyak pohon pinang yang kalian tebang hanya untuk kerumunan tawaan. Karung dan tambang yang kalian pakai untuk mainan itu adalah senjata kami bertahan dari hawa dingin angin malam dan untuk mengambil buah kelapa dari pohonnya. Kalian kini selalu berpesta atas nama kemerdekaan. Kalian menggelar tawa di mana-mana atas nama peringatan tujuh belasan. Terima kasih kamu menuruti permintaan Nenek untuk tidak mengikuti itu semua, Neng.”