“Kami ini cari makan. Apa di rumah kau tak punya keluarga yang juga butuh makan?!” bentakan Ciprut ketika digelandang ke panti sosial. Tri Bendot yang awal mula mengajaknya menjadi badut di ibukota ini baru saja mati mendadak kena angin duduk. Dia harusnya pulang kampung, tapi tak. Apalagi jika ingat kondisi keluarga yang menyesakkan. Dia pikir lebih baik tak melihat jungkir balik istrinya menafkahi dua anaknya yang sudah sekolah. Akhirnya bertemulah dia dengan Jo Kemput yang mengajarinya trik ini.
“Daripada enggak punya pegangan sama sekali. Nanti toh kau bisa cari cara yang lebih baik lagi. Di kota ini, cara apa pun bisa digunakan untuk cari duit, asal kau mau,” kata Jo Kemput menggurui.
Baca juga: Lolongan Tengah Malam – Cerpen Adi Zamzam (Koran Tempo, 22 Juli 2012)
Siang itu Ciprut sedang semangat-semangatnya memancing tawa dengan kostum barunya. Beberapa pengguna trotoar sempat tertarik dengan ulah kecilnya, hingga dia melupakan jam istirahat. Di tengah rasa lapar dan lelah terlupakan itulah, dari arah tak dia sangka, tiba-tiba saja mereka datang dan langsung main ringkus.
Ciprut memang sempat melawan dan menantang mereka. Akhirnya salah seorang dari mereka berhasil menjambak dompetnya, membuatnya histeris tatkala puluhan uang logamnya berhamburan. Dia hanya dibiarkan memunguti selama beberapa detik sebelum kemudian digelandang paksa.
Dia misuh-misuh, mengumpat sejadi-jadinya.
“Dasar robot!” semburnya penuh emosi.
“Ndak punya otak!” semburnya lagi.
Kejadian itu menghilang dari lamunan begitu dia selesai menata uang dan menghitung jumlahnya.
Baca juga: Kabut – Cerpen Adi Zamzam (Suara Merdeka, 21 April 2013)
“Masalah kita sekarang, bagaimana caranya mengatasi para robot-robotan itu. Masak nasib kita mesti dikejarkejar melulu? Hidup kita ini rasanya lebih lucu daripada kostum yang kita buat sendiri,” ujar Jo Kemput sembari memerhatikan beberapa orang yang langsung menghambur begitu sebuah truk memuntahkan tumpukan sampah dari bak belakangnya. Dia meludah dua kali.
“Memangnya mau kau apain mereka?”
“Santet!” Jo Kemput tak beralih dari pandangannya.
“Kalau pimpinannya mati, mereka juga pasti akan mati.”
“Mereka akan bikin pemimpin lagi. Edan tho?” meludah lagi. Kali ini lebih keras.