Ciprut Melihat Badut

Seketika itu kepala Ciprut langsung dipenuhi dengan aneka berita. Pernah dia baca di koran-koran bekas. Dia lihat di televisi milik Haji Kemat—bos pengepul barang-barang rongsokan. Dia membayangkan bagaimana-bagaimananya ketika para korban banjir itu dijual. Korban tanah longsor itu digadaikan, korban kemiskinan itu ditawar-tawar dan korban-korban lainnya menjadi bahan dagangan. Amat menguntungkan di dalam gedunggedung mewah…

Baca juga: Daun yang Sombong, Bunga yang Bodoh, dan Rumput yang Pasrah – Cerpen Adi Zamzam (Tribun Jabar, 18 Maret 2018)

Keesokan harinya ketika Ciprut hendak memulai aksinya sebagai seorang badut, dia merasa dirinya tak lucu lagi. Semua orang di sekelilingnya justru terlihat lebih lucu dan menggelikan. Mereka memang tidak mengenakan kostum lucu dan terkadang agak aneh—seperti dirinya. Kelakuan mereka kadang terlihat begitu absurd dan membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak.

Di masjid, dia pernah mendengar seseorang yang sering memberikan khotbah, namun di luar masjid kelakuannya justru bertolak belakang dengan khotbah-khotbahnya. Di televisi, dia sering melihat mereka yang kemarin mengumbar kata cinta, namun kemudian tersedu-sedu dalam kasus perceraian. Orang kaya yang terjerat kasus korupsi. Orang-orang miskin yang nasibnya tak juga berubah meski bekerja siang malam. Orang-orang yang hidupnya begitu dikendalikan oleh jam. Seseorang yang bunuh diri, pecandu cimeng, bayi yang dibuang ke selokan. Pasangan selingkuh tertangkap basah oleh istrinya sendiri. Para pendemo, orang-orang pelit, …

Aduh, kota ini benar-benar dihuni banyak badut yang lebih lucu dariku! gerutunya. *

 

Kalinyamatan – Jepara 2017.

Arsip Cerpen di Indonesia