“Mereka itu sebenarnya enggak sadar kalau mereka juga mirip badut!” lalu mengeluarkan perkakas dari kardus di belakangnya. Lalat-lalat langsung beterbangan menghindar.
“Apa itu? Kostum baru?”
Pertanyaan Ciprut baru mendapatkan jawaban setelah Jo Kemput memakai kostumnya dan beranjak ke sasaran. Rupanya yang dia sasar bukanlah anak-anak kecil. Pasangan muda-mudi yang sedang kasmaran, atau orang-orang bengong di taman yang sedang kesepian lagi. Dengan setelan jas lengkap. Dasi dan topeng yang entah mirip dengan wajahnya siapa. Kawannya yang bertubuh bantet itu berhasil mengumpulkan sejumlah mahasiswa tak jauh dari kampus Tri Sakti.
Baca juga: Aku – Cerpen Adi Zamzam (Kompas, 26 Agustus 2012)
“Kalau biasanya di dalam gedung mereka yang mempermainkan nama kita, seenak udelnya mencatut nama kita. Kini giliran kitalah yang akan menertawakan nama mereka. Setuju?!”
Terjadi kemudian begini, Jo Kemput menyebut sebuah nama yang wajahnya dia ‘culik’. Dia tirukan lagak dan gaya bicaranya si mister FH, SM, AA, XX, dan YY, dengan sedikit lelucon. Dia biarkan para penontonnya mengkritik, menertawakan, menyinyiri bahkan misuh-misuh sesuka hatinya.
Setelah jeda waktu yang cukup untuk pertunjukannya, Jo Kemput kemudian berkeliling ke arah para penontonnya. Dia membawa kardus, demi upah alakadarnya.
“Dari mana kau mendapatkan ide secemerlang itu?” tanya Ciprut sewaktu Jo Kemput mentraktirnya di sebuah rumah makan.
“Ini Jakarta, Bung. Tempat yang orang-orangnya lebih membutuhkan tawa ekstra ketimbang orang-orang di tempat lainnya. Di sini, segala hal bisa dijadikan bahan tawa.”
“Memangnya dari mana kau mendapatkan ide tadi?” mengulangi pertanyaannya.
“Dari situ,” menunjuk ke sebuah gambar di halaman depan sebuah koran tak jauh dari tempat duduk mereka.
“Gedung MPR/DPR?”
“Juga dari situ,” menunjuk sebuah pos polisi yang berada tak jauh dari rumah makan.
Ciprut melongo.
Baca juga: Ketika Rabbi Diturunkan – Cerpen Adi Zamzam (Republika, 02 Maret 2014)
“Kau masih belum paham?”
“Jadi menurutmu, orang-orang pintar di sana itu, badut?” Jo Kemput langsung ngakak.
“Kamu juga badut, selama ini enggak sadar kalau nasibmu cuma dijadikan lelucon dan bahan dagangan di dalam sana.”