Ah, nyaris tiap pagi, Meila tak pernah merasai kebersamaan bersama kedua orang tuanya di rumah. Bahkan, untuk membangunkan tidurnya setiap pagi, Mama tak pernah ada waktu. Sebagai wanita karir, Mama memang tak kalah sibuk dengan Papa. Selalu berangkat ke kantor lebih pagi, bahkan sebelum azan Subuh berkumandang dari masjid di ujung kompleks. Alasannya, berangkat kesiangan sedikit saja, jalanan dipastikan macet total.
Baca juga: Ongkos Naik Haji Emak – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 19 Oktober 2014)
Dan, Meila pun kembali teringat mimpinya barusan. Tentang gumpalan asap yang bersumber dari atap rumahnya.
“Bik Inah barusan lihat asap nggak di rumah ini?”
“Asap?” Bik Inah menghentikan aktivitas menyapunya sejenak dan menatap aneh bocah perempuan kelas 5 SD di depannya.
“Ah, lupakan saja, Bik,” Meila mengibaskan tangan dan bergegas menuju kamar mandi.
***
Pada mimpi kedua, Meila kembali melihat gumpalan asap itu lagi. Tapi, kali ini gumpalan asap tersebut keluar melalui seluruh atap rumahnya tanpa terkecuali. Sebelum asap itu muncul, ia tengah duduk termenung di atas ayunan sambil membayangkan kapan bisa diajak berlibur oleh orang tuanya ke tempat-tempat wisata yang banyak tersebar di kota ini.
Jujur, selama ini ia merasa sangat kesepian. Ia selalu ditikam rasa iri ketika teman-teman sekolahnya bercerita perihal liburan mereka bersama orang tua dan saudara masing-masing. Ah, bahkan di hari libur, orang tua Meila tak ada di rumah. Sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Baca juga: Sebelum Pesawat Itu Jatuh – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 25 Januari 2015)
Hmm, seandainya aku punya saudara, tentu aku nggak akan merasa kesepian tinggal di rumah sebesar ini. Gumam Meila dalam hati. Selama ini, ketika Papa dan Mama bekerja, ia hanya ditemani Bik Inah dan Pak Lani, sopir yang bekerja di rumahnya sejak ia duduk di bangku kelas 2 SD dan rutin mengantar ke sekolah tiap pagi sekaligus menjemputnya saat jam pelajaran berakhir.
Ketika duduk melamun itulah, Meila tiba-tiba dikejutkan munculnya asap dari seluruh atap rumahnya tanpa terkecuali. Dalam hitungan detik, gumpalan asap itu keluar lebih banyak dan cepat. Meila panik bukan main, sampai-sampai tak berani masuk ke rumah yang saat itu telah terkepung oleh gumpalan asap. Yang bisa ia lakukan hanyalah memanggil-manggil Papa, Mama, Bik Inah, dan Pak Lani berkali-kali seraya berteriak minta tolong. Namun, orang yang dipanggil tak kunjung keluar. Bahkan, tak ada seorang pun yang datang menolongnya. Sementara, asap itu terus membubung, membentuk gumpalan tebal, bahkan menyebar luas hingga ke berbagai penjuru kota.