“Kebakaraan! Kebakaran! Toloongg!” teriak Meila sambil berlari ke sana-kemari saking paniknya.
“Non! Non Meila, bangun Non,” suara yang begitu akrab di telinga Meila kembali menyadarkan mimpi buruknya.
“Jam berapa ini, Bik?” Meila mengucek-ucek kedua kelopak matanya.
“Setengah dua belas, Non.”
“Papa dan Mama udah pulang, Bik?”
“Sudah, Non, tapi sekarang mereka sedang istirahat.”
Baca juga: Selfie – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Analisa, 19 Agustus 2018)
Bahkan saat malam hari, Meila tak sempat bersua dengan kedua orang tuanya yang baru pulang ke rumah ketika malam telah begitu larut.
“Non, habis nonton film apa sih, kok mimpinya ngeri amat?”
Pertanyaan Bik Inah sontak mengingatkan mimpinya barusan, membuat tubuh Meila tiba-tiba ditelikung rinding.
***
Pada mimpi ketiga, Meila tengah berlari keluar dari pintu gerbang rumahnya yang telah dipenuhi kabut asap hingga membuat pernapasannya terasa sesak. Di luar pintu gerbang, ia melihat puluhan orang yang juga tengah panik sambil membekap mulut dan hidung masing-masing. Mereka tergesa berjalan, sebagian berlari lintang pukang demi menghindari kabut asap yang kian menebal hingga jarak pandang hanya seratusan meter.
Entah, telah berapa lama Meila berjalan tergesa bersama gerombolan orang yang terus membekap erat mulut dan hidung mereka. Asap tebal yang menyusup ke dalam setiap rumah warga membuat para penghuninya sulit bernapas dan memaksa mereka keluar rumah, berjalan tak tentu arah, berharap menemukan lokasi berudara segar yang dapat membuat mereka terbebas dari kepungan kabut asap.
Baca juga: Tamu Tengah Malam – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 06 Maret 2016)
Meila bahkan tercengang tak kepalang saat bertemu gerombolan binatang beraneka ragam, seperti kera, rusa, kancil, kelinci, beruang, yang juga terlihat sangat panik sambil berlarian ke sana-kemari menghindari kabut asap yang kian menebal. Dan, Meila membelalakkan mata tak percaya saat binatang-binatang tak berdosa itu ternyata dapat berbicara dan mengobrol satu sama lain layaknya manusia. Dari pembicaraan tersebut, Meila jadi tahu bahwa mereka keluar dan berlarian dari hutan setelah hutan yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka dibakar oleh entah siapa.
Ketika Meila nyaris pingsan akibat kesulitan bernapas, tiba-tiba ia mendengar suara cekakak tawa hingga membuatnya terjaga dari alam mimpinya yang begitu mengerikan. Sambil mengucek kelopak matanya yang berasa lengket, Meila menatap jam beker putih bulat di meja belajarnya. Pukul dua dini hari.
***