Suara tawa itu kembali bergema. Merobek malam yang hening. Meila lekas menajamkan pendengarannya seraya bangkit dari tempat tidur. Perlahan ia keluar dari kamarnya, menuju sumber suara tawa yang sepertinya berasal dari ruang tamu.
Baca juga: Surat untuk Ayah – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 26 Januari 2014)
“Berarti kalau proyek perluasan kebun kelapa sawit ini berhasil, kita akan meraup laba hingga triliunan?”
Itu suara Papa. Batin Meila sambil bersandar di dinding pembatas ruang tamu.
“Hahaha, betul sekali, Pak Gayuh,” sahut suara nyaring pria yang belum pernah Meila dengar.
“Tapi, bagaimana kalau proyek ini nggak mendapat izin pemerintah setempat?” suara yang keluar dari bibir perempuan ini, Meila sangat mengenalnya. Itu suara Mama.
“Hahaha, itu soal gampang Bu Ratna, mereka pasti nggak akan berkutik kalau melihat tumpukan uang dan pajak yang mengalir bagai air tiap tahun,” sahut suara lain yang begitu asing di telinga Meila. Lalu, terdengar suara cekakak tawa itu lagi. Tawa penuh kemenangan yang begitu pekak terdengar di telinga Meila, membikin kepalanya tiba-tiba terasa pening.
Baca juga: Kiai Amplop – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Republika, 18 September 2011)
“Terus, kira-kira kapan pembakaran hutan itu dimulai?”
Hei, itu suara Papa! Meila seketika membekap mulutnya. Pembakaran? Gumpalan asap yang mengepung rumah warga hingga berbagai penjuru kota? Puluhan binatang yang berlarian ke sana kemari menyelamatkan diri karena tempat tinggalnya dibakar oleh siapa entah? Rentetan kejadian di alam mimpi itu kembali berputar di benak Meila secara otomatis, hingga membuat tempurung kepalanya tak hanya pening tapi juga berputar serupa gasing. Ah, bahkan Meila mendadak sulit bernapas.
Meila langsung terpekik histeris saat menyadari bahwa ruangan di sekelilingnya telah dipenuhi kabut asap yang semakin lama kian menebal sehingga membuatnya sulit bernapas. ***
Puring Kebumen, 1 Muharam, 1437 H
Sam Edy Yuswanto, penulis yang lahir dan bermukim di Kebumen