Sarung untuk Bapak

Dalam sejarah, Rusli merupakan orang pertama di kampungnya yang berprofesi sebegai TKI. Warga kampung sempat dibuat khawatir, takut seandainya di kemudian hari banyak pemuda yang mengikuti jejak Rusli; pergi jauh meninggalkan kampung halaman hanya demi bekerja sebagai jongos.

Lebih dari itu, sikap antipati warga kampung terhadap profesi tersebut juga dilatarbelakangi oleh maraknya berita mengenai TKI yang disiksa majikan dan berujung kematian.

Lagipula, kalau sekadar jadi jongos, mengapa harus ke luar negeri. Padahal, di kota masih banyak lowongan pekerjaan kasar yang tersedia. Entah sebagai pembantu, tukang kebun, atau porter bandara. Begitulah cibiran yang terus terngiang-ngiang di telinga Rusli, sampai sekarang.

Baca juga: Angku Zainal – Cerpen Adam Yudhistira (Republika, 26 Agustus 2018)

Meski kenyataannya lebih banyak pemuda kampung yang memilih jadi preman, copet, dan tukang minta-minta, pikir Rusli.

“Jauh-jauh ke Korea cuma mau jadi jongos.”

“Kamu itu pengaruh buruk buat anak muda lainnya. Gimana kalau nanti semua pemuda di kampung ini mau jadi TKI demi rupiah yang tidak seberapa?”

“Mending di kampung, ngangon kambing!”

“Rus, Rus, ke Korea itu liburan. Ini kok jadi TKI. Kalau memang terpaksa, lebih baik jadi TKI di Arab, sekalian kamu naik haji.”

“Cari mati kamu, Rus. Jadi TKI itu taruhannya nyawa lho.”

Dua tahun kepergian Rusli, kerja kerasnya menunjukkan hasil. Rusli rutin mengirimi uang ke orang tuanya. Nominal yang lebih dari cukup jika hanya digunakan biaya hidup sehari-hari. Sisanya digunakan untuk berbagai hal; merenovasi rumah, biaya sekolah adik perempuan Rusli, bahkan membeli dua buah sepeda motor.

Rumah gubuk milik keluarga Rusli di kampung tinggal kenangan. Rumah yang sebelumnya didominasi tripleks dan bilik bambu berganti bata merah yang lebih kokoh, beratap genteng yang lebih bagus, dan berhalaman luas yang difungsikan sebagai kebun. Tak ada lagi rutinitas meletakkan panci dan ember di lantai kamar atau ruangan lain karena atap yang bocor kala hujan deras.

Siapa yang tak iri atas semua pencapaian itu. Maka, cibiran-cibiran baru pun bermunculan, terdengar oleh keluarganya, dan disampaikan lagi pada Rusli dalam bentuk pesan singkat. Hal yang dikhawatirkan warga kampung akhirnya terjadi juga, para pemuda mendadak ingin jadi TKI, tetapi tak ada yang mendapat restu. Ironi, banyak yang iri pada hasil akhir, tetapi menolak berproses.

Baca juga: Bulan Memancar – Cerpen Tjak Parlan (Republika, 19 Agustus 2018)

Rusli segera menampik suara-suara sumbang di telinganya. Kepulangannya tidak boleh diisi kegelisahan seperti itu. Mengapa harus repot dengan cibiran orang lain, sementara orang-orang yang mencibir Rusli tidak memiliki tanggung jawab apa-apa atas kehidupan keluarganya di kampung. Bahkan, sewaktu keluarga Rusli sedang mengalami kesusahan, tak sedikit warga kampung yang menutup mata.

Pria itu hanya ingin pulang dengan tenang, bertemu keluarganya, terlebih Bapak. Bapak yang pernah memagut tangannya saat hendak berangkat ke Korea. Bapak yang di pagi buta membantu menyiapkan keperluan Rusli. Bapak yang rela menyelipkan tabungan terakhirnya ke saku Rusli sebagai bekal perjalanan. Bapak yang menjadi segala-galanya bagi Rusli.

Arsip Cerpen di Indonesia