Sarung untuk Bapak

Rusli dan Bapak lantas berjalan menuju masjid. Keduanya beriringan, bersebelahan, tetapi tak saling bicara seumpama sahabat yang sedang marahan. Bapak enggan bicara karena masih kesal, sementara Rusli bersikap hati-hati, khawatir jika nanti salah bicara lalu kena marah. Sampai di masjid, keduanya mengambil saf berbeda. Bapak berada di saf terdepan, Rusli di saf mana saja asal tidak di sebelah Bapak yang besar kemungkinan membuatnya salah tingkah.

Baca juga: Haji Manap – Cerpen Faruqi Umar (Republika, 29 Juli 2018)

Sampai di sini, kelucuan keduanya belum berakhir. Terlepas siapa pun yang ke luar duluan selesai shalat Jumat, salah seorang di antara mereka pasti menunggui di depan masjid, memastikan sandal mereka tidak hilang atau tertukar dengan jamaah lain seperti yang pernah dialami beberapa waktu lalu. Kemudian, mereka pulang bersama-sama, berbincang akrab setelah Rusli mencium tangan Bapak sebagai tanda hormat.

Pekan berikutnya, siklus serupa bakal terulang. Debat, tidak bicara, berbeda saf, saling tunggu, lalu pulang bersama-sama dan berbincang akrab. Begitulah hubungan Rusli dengan Bapak. Kadang panas, kadang dingin, tak bisa ditebak. Hingga kemudian di shalat Jumat terakhir sebelum keberangkatan Rusli ke Korea, sarung Bapak yang sudah lapuk itu tiba-tiba sobek di bagian tengah.

Rusli merasa lucu sekaligus miris. Lucu karena mendapati Bapak mesti mengenakan celana panjang ke masjid, hal yang seumur hidup hampir tak pernah Bapak lakukan, dan miris karena Bapak tak lagi punya sarung yang layak pakai untuk sementara waktu. Ah, kenangan yang berkelebat kian menguatkan keinginan Rusli agar bisa cepat tiba di rumah.

Turbulensi menyadarkan Rusli dari lamunan panjang. Ia segera mengencangkan sabuk pengaman, menunduk, lantas memeluk benda yang sedari tadi ada di pangkuannya, sebuah sarung untuk Bapak. Pelukan yang erat, seolah sarung itu sangat berharga dan pantas dijaga dengan bertaruh nyawa.

***

Harum melati dan kamboja menyerbak di antara keramaian. Langkah Rusli hanya tertuju pada satu tujuan; Bapak yang ia rindukan, Bapak yang ingin ia peluk erat-erat dalam jangka waktu yang lama. Yang Rusli cari-cari kemudian ditemukan, dalam hati ia pun bersorak senang. Rusli bergegas, mendekati Bapak, dan tersuruk di pangkuannya.

Hanya tanah dan aroma yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

“Rusli sudah pulang, Pak. Pulang dengan tetap menjaga nama baik negeri ini.” Kerinduan Rusli akhirnya bisa tersampaikan.

Baca juga: Tendangan Dua Belas Pas – Cerpen Zaenal Radar T (Republika, 15 Juli 2018)

Mata Rusli mengatup dalam-dalam. Air mata Rusli telah tandas semalam sebelumnya, tak ada yang tersisa. Ia berjanji untuk tidak menangis di depan Bapak. Pertemuannya dengan Bapak terlalu berharga jika hanya diisi oleh tangisan. Perlahan, Rusli meletakkan sarung itu di atas batu nisan Bapak.

Rusli mengenakan peci, baju koko, beserta sarung. Siang itu ia berangkat shalat Jumat bersama kenangan-kenangan yang Bapak tinggalkan. ■

Arie Fajar Rofian, pegiat sastra tinggal di Karawang, Jawa Barat.

Arsip Cerpen di Indonesia