Jika bukan malu karena ego kelelakiannya, Rusli bisa saja mendekap tubuh Bapak erat-erat sesaat sebelum keberangkatannya, lalu menangis sesenggukan. Meninggalkan keluarga dan menyeberangi samudra di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun bukanlah perkara mudah. Apalagi mesti hidup tanpa Bapak.
“Kamu sudah dewasa. Dan orang dewasa harus menghadapi hidup dengan caranya sendiri, asal tidak merugikan orang lain. Ingat itu, Rusli,” kata Bapak memberi wejangan terakhir. “Baik-baik di negeri orang, Nak. Jangan berbuat yang tidak-tidak sehingga mencoreng nama baik negeri ini.”
“Iya, Bapak. Doakan Rusli selalu kuat di sana.” Mata Rusli berkaca-kaca, tinggal menunggu waktu sebelum air mata tumpah ruah.
“Selalu, Nak. Selalu ada doa di setiap hela napas Bapak untuk kamu.” Bapak menepuk-nepuk pundak Rusli, penuh kebanggaan.
Baca juga: Riwayat Haji – Cerpen Zainul Muttaqin (Republika, 12 Agustus 2018)
Tangan Rusli melambai kuat-kuat di iringi derai air mata yang tak tertahankan, mengisyaratkan salam perpisahan yang begitu mendalam. Ia tak peduli orang-orang di sekitar memandanginya sambil menahan tawa, bahkan sebagian cekikikan bak orang gila. Seorang lelaki dewasa melakukan salam perpisahan seperti anak TK adalah tontonan yang mungkin menggelikan, juga tak lumrah.
Bapak bukan sekadar bapak biologis bagi Rusli, tapi lebih dari itu. Pula, bukan sosok otoriter yang setiap kemauannya harus dituruti anaknya. Bapak bisa menjadi teman, sahabat, atau bahkan musuh Rusli di saat-saat tertentu. Misalnya saja perkara shalat Jumat, ibadah rutin pekanan yang kerap mereka laksanakan secara bersama-sama saat Rusli masih menganggur.
Menurut Bapak, pakaian wajib shalat Jumat itu terdiri atas peci, baju koko, dan sarung. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi Rusli. Rusli lebih suka mengenakan kaus dan celana panjang, tanpa peci. Yang terjadi kemudian, Rusli dan Bapak kerap berdebat sebelum berangkat menuju masjid.
“Peci?” Sebuah peci disodorkan Bapak, berbalas gelengan kepala Rusli. Bapak lantas memelototi Rusli.
“Nanti rambut Rusli bisa berantakan kalau pakai peci,” kilah Rusli, menyibak rambutnya dalam adegan lambat.
Baca juga: Seperti Pagi – Cerpen Adi Zamzam (Republika, 05 Agustus 2018)
Rambut Rusli saat itu terbilang gondrong. Dan ia tidak mau tatanan rambutnya rusak karena mengenakan peci.
“Baju koko?”
“Panas, Pak. Enakan pakai kaus.”
“Dasar anak setan. Pakai baju koko kok kepanasan.”
“Bapaknya siapa dulu.” Rusli cengengesan, dan kepalanya langsung dipukul menggunakan peci yang tadi sempat Bapak sodorkan.
“Sarung?” Bapak mulai terdengar kesal.
“Kan sarung di rumah kita cuma satu.”
Bapak mengangguk kesal, sedikit bersungut-sungut, menyadari fakta bahwa mereka hanya memiliki sebuah sarung di rumah. Disentuh dan diperhatikannya sarung semata wayangnya itu. Lusuh dan warnanya sudah pudar.