Bela Negara dengan Pergi ke Sekolah

Soni dan Udin pun berangkat ke sekolah, Soni berangkat sambil memikirkan perkataan ibunya tadi. Sesampainya di sekolah, Soni terus merenungkan apa yang dikatakan ibunya. Ketika guru memberi penjelasan, ia pun tidak mendengarkannya.

“Soni, kamu kok melamun saja dari tadi,” ujar Bu Siti.

Baca juga: Beruang Lapar – Oleh Sulistiyo Suparno (Suara Merdeka, 19 Maret 2017)

“Tidak, Bu, saya berpikir kenapa ya orang kaya itu lebih khusus dibandingkan orang miskin seperti kami ini, Bu?” Tanya Soni.

“Tidak, Soni. Semua orang di sekolah ini diperlakukan sama,” ujar Bu Siti.

“Jadi kenapa ketika orang kaya melanggar peraturan, banyak yang menutupi kesalahannya, tetapi jika orang miskin yang melanggar peraturan, sangat berat hukumannya, Bu?” kata Soni.

Bu Siti pun tidak mau berbicara panjang lebar. Ia langsung melanjutkan pelajaran.

Setelah bel pulang, Soni dan Udin kembali ke rumahnya masing-masing. Soni belajar terus menerus tanpa lelah, karena dia ingin menjadi orang cerdas dan berjuang membela negara. Ia semangat belajar dan pergi ke sekolah dengan cepat. Seiring berjalannya waktu, karena Soni pintar dan disiplin, ia pun dijadikan murid teladan.

Baca juga: Tersesat di Kebun Binatang – Oleh Nida Fatah (Suara Merdeka, 15 April 2018)

Soni tumbuh hari demi hari, ia sukses menjadi pejabat Negara dan bekerja di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Banyak sekali pejabat negara korup yang ia tangkap. Dan hal itu membahagiakannya. Ia pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, tiba-tiba ia bingung kenapa ada bendera kuning di rumahnya. Ternyata, ibunya sudah tidak ada lagi.

Ibu yang merawatnya dari kecil dan menyemangatinya untuk bersekolah dan menjadikannya orang sukses sekarang tidak ada lagi.

“Ibu, sekarang aku sudah sukses, terima kasih, Ibu” kata Soni menangis sambil merelakan ibunya pergi untuk selamanya. ***

Arsip Cerpen di Indonesia