Orang mati yang berada di dasar jembatan itu selalu mengganggu orang-orang yang lewat di atasnya. Hantu bodoh. Balas dendam pada orang yang salah. Jika mereka pandai, tentu saja mereka akan membalas dendam mereka pada yang telah membunuhnya. Jika yang membunuhnya sudah mati, seharusnya mereka mencarinya di alam kematian dan mengajaknya berkelahi secara habis-habisan. Juga yang mengisahkan mereka, kupikir juga bodoh. Tak ada sangkut pautnya, tetapi nekat diceritakan.
Baca juga: Menyimpan Buku – Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sumbar, 04-05 Agustus 2018)
Kata orang-orang, Eyang Mantri butuh makan. Sudah lama tak diberi sesaji. Biasanya Marto Timpal yang memberinya makan. Tapi ia sudah mati, dan Eyang Mantri yang tak mau bekerja itu selalu murung. Hingga akhirnya ia mengamuk dan menyeretnya ke dasar jembatan kemudian memakan orang-orang yang melewati jembatan peninggalan kompeni itu.
Kau boleh percaya atau tidak pada Eyang Mantri. Tapi kuharap lebih baik kau percaya padanya. Sebab jika kau tak percaya padanya, kau akan kena laknat. Paling tidak, tidurmu tidak akan nyenyak karena mendengar suara-suara orang mati dari jembatan dan pohon ipik tempat Eyang Mantri tinggal.
Pohon itu telah menjadi saksi betapa kehormatan Eyang Mantri dijaga dengan baik oleh orang-orang. Semua orang desa menghormatinya. Kata orang-orang pula, Eyang Mantri tak suka hura-hura. Katanya biar hemat. Setiap orang hidup, haruslah prihatin. Sebab jika tak prihatin, Gusti Allah akan mendatangkan paceklik. Begitulah yang didengar orang-orang ketika mengantarkan cok bakal ke pohon ipik itu. Bisikan dari Eyang yang diyakini orang-orang sebagai pegangan mereka dalam menjalani kehidupan.
“Apa kau percaya pada Eyang Mantri?” tanyamu suatu ketika padaku.
Baca juga: Bunga-bunga Marina – Cerpen Eko Setyawan (Solo Pos, 10 Juni 2018)
Dalam pikiranku ada seribu jawaban untuk melegakan hatimu. Tetapi nampaknya, kau lebih tegang ketika mengucapkan pertanyaan itu. Wajahmu begitu sayu. Aku tahu, kau sedang dirundung rasa takut. Aku yakin. Peluh menyelimuti wajahmu, menetes melewati kening dan mengalir ke dagumu. Menetes dan meresap ke kaos oblong yang kau kenakan.
Semoga saja tak terjadi apa pun dengan kau.
“Sialan,” umpatmu ketika aku tak menjawab pertanyaanmu. Kurasa kau begitu emosional dengan Eyang Mantri dan pohon ipik itu. Dan segudang tanda tanya menumpuk di dalam tempurung kepalamu, dan ingin segera kau tuntaskan. “kau tahu orang-orang yang saban hari mati di jembatan dan salah satu mereka mendatangiku?” lagi-lagi disusul pertanyaan yang meluap-luap di kepalamu.
Marto Timpal mendatangimu? Sungguh?