Marto Timpal dan Kisah Pohon Ipik

Pohon sebesar rentangan tangan empat orang dewasa itu sekarang benar-benar roboh. Orang-orang kampung ketakutan dengan kejadian yang menggemparkan itu. Kini mereka tak lagi memiliki Eyang Mantri. Mereka kehilangan pengayom keselamatan. Mereka kehilangan diri mereka. Mereka dirundung kecemasan yang begitu kuat. Mereka membutuhkan Marto Timpal.

Baca juga: Sulur – Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sultra, 15 Agustus 2018)

Aku dan kau, mungkin juga semua yang sempat mendengar cerita dari mulut Marto Timpal telah dibuatnya keranjingan. Tapi tidak dengan kisah pohon ipik itu. Apa kau percaya padanya? Jangan. Jangan pernah percaya tentang kebohongan itu.

***

Segala hal yang diceritakan Marto Timpal bisa kau ceritakan pada orang-orang. Dia memang telah menjadi saksi semua hal yang terjadi di jembatan itu. Umurnya sudah seabad lebih beberapa windu. Dan soal cerita kematian dan keyakinan itu tidak sepenuhnya benar, tapi juga tak sepenuhnya salah. Kau hanya perlu yakin pada dirimu sendiri.

Sekarang semua kukembalikan padamu. Kau boleh percaya pada kisah ini atau silakan acuh jika kau tidak peduli sama sekali. Terserah. Tetapi semoga saja kau akan membaca sampai tuntas. Lalu perihal penjelasan yang lebih dalam. Maafkan aku yang tak mampu menceritakannya lebih jauh. Hanya ini yang kuingat. Jika kau masih mengingat cerita Marto Timpal, kau bisa memberitahuku di kemudian hari. Sehingga cerita yang kau baca ini bisa begitu sempurna.

 

Eko Setyawan, lahir dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Sebelas Maret. Karya-karyanya tersebar di beberapa media. Buku kumpulan puisinya berjudul “Merindukan Kepulangan” (Bebuku, 2017). Bernaung di Komunitas Sastra Senjanara dan Komunitas Kamar Kata Karanganyar.

Arsip Cerpen di Indonesia