Tentu saja semua orang yang mendengarnya akan kaget bukan kepalang. Mungkin kalau bukan aku yang mendengarnya, mereka akan gila. Ya, gila. Seperti apa yang kau ceritakan padaku demikian. Marto Timpal pemberi sesaji itu muncul di dalam mimpimu. Aku bingung harus percaya padamu atau tidak. Kau benar-benar membuatku bimbang. Sungguh.
Aku benar-benar tak percaya pada mimpimu itu. Rasa takutku mulai muncul. Sebelumnya aku tak pernah mempercayai apa pun tentang jembatan dan pohon ipik itu. Apalagi tentang kisah Eyang Mantri dan Marto Timpal.
Baca juga: Tato Titi – Cerpen Eko Setyawan (Koran Tempo, 30 September 2017-01 Oktober 2017)
Kau seharusnya mengingat ketika Marto Timpal bercerita pada kita tentang hantu-hantu di pohon mlinjo, bukan pohon ipik. Katanya, pohon itu dipenuhi genderuwo yang sesekali membawa anak-anak ke sarangnya. Masuk ke dalam pohon yang tegak lurus itu. Apa kau sempat berpikir akan diapakan anak-anak yang diculik itu? Apakah dimakan atau sekadar ditanyai dan dijadikan tempat bercakap atas kesepian mereka?
Tak habis pikir. Orang tua itu memang aneh. Ketika ada yang mengganggu jalanmu, katanya genderuwo, pohon yang tiba-tiba menghalau jalanmu, dan kau ketakutan. Bisa diusir dengan cara konyol yakni kau hanya perlu memelorotkan celanamu kemudian menunjukkan kelaminmu ke mereka dan mereka akan ketakutan. Atau dengan cara bodoh yakni memetik salah satu daun dari pohon penghalang itu, katanya mereka akan kesakitan dan berbalik takut padamu.
Lantas, apakah kita sepatutnya percaya pada kisah Marto Timpal. Cobalah berpikir sekali atau dua kali lagi. Berpikirlah dengan matang. Kurasa kau akan mengerti tentang jawaban atau pertanyaan yang kau tanyakan padaku.
***
“Apakah orang-orang kota itu gila,” begitulah yang kudengar dari orang-orang ketika sebuah gergaji mesin senso merobohkan pohon ipik. Pohon jenis beringin raksasa itu tumbang setelah sekian lama dipercaya orang-orang sebagai rumah tinggal Eyang Mantri. Tanpa kenduri, tanpa sesaji, tanpa minta ijin sang Danyang.
Baca juga: Seorang Tua yang Mengakhiri Cerita – Cerpen Eko Setyawan (Radar Bromo, 01 April 2018)
Kau lagi-lagi bermimpi tentang Marto Timpal. Kukira kita benar-benar sudah dibuat gila olehnya. Perihal cerita yang ia kisahkan saban malam pertengahan bulan penanggalan Jawa ketika bulan sedang bersinar paling terang. Ketika kita bermain gobak sodor di halaman rumahnya. Ketika kita memasang telinga kuat-kuat di balik pintu ketika Marto Timpal kedatangan tamu dan memulai menghitung tanggal yang tepat untuk seseorang yang akan menikah, memilih tanggal dan hari yang tepat agar kelak tak terjadi apa pun pada saat pernikahan ataupun selepas pernikahan.
Semua masih melekat dalam ingatanku.