Mematikan Lagarise

Jonkers kembali menekuni berita tentang kematian pebisnis muda berumur tiga puluh empat tahun di kota mereka—tepatnya tetangga samping rumah Jonkers. Dia sedikit menyesal, hampir tidak tahu apa-apa tentang Lagarise.

Baca juga: Upik Labu – Cerpen Caroline Wong (Jawa Pos, 22 April 2018)

Lagarise memang pemuda beringas, sombong, dan sering berulah di klub-klub minum setempat. Di usia enam belas tahun dia pernah menaruh obat tidur dalam minuman soda teman kencannya dan ketika anak perempuan itu jatuh tertidur, Lagarise menelanjanginya dan mengambil foto dengan kamera polaroid. Juga ada puluhan perkelahian dan pertengkaran baik di sekolah maupun di rumahnya orangtuanya. Hmmm…, jadi kematian orang-orang seperti ini bisa dianggap boleh-boleh saja? Seharusnya tidak perlu seheboh ini.

Tapi, yang menjadikan penemuan mayatnya dan kisah-kisah heboh yang mengikutinya tidak biasa adalah… Coba tebak? Lagarise ditemukan terbaring manis di atas meja bilyar di ruang tengah rumahnya sendiri. Manis dalam artian sebenarnya. Sama sekali jauh dari seram, mengerikan atau brutal. Tidak ada genangan darah atau luka-luka sabetan atau tusukan yang menganga.

Lagarise malah terbaring cantik dengan wig palsu sebahu berwarna pirang terang, mengenakan terusan berbahan satin polos berwarna putih tulang dan oh wajahnya itu, dipoles dengan make up yang begitu halus. Benar-benar adikarya. Kulitnya yang berpori kasar benar-benar tersamar dengan bedak yang halus, bibirnya yang selalu tersenyum congkak itu bahkan berwarna merah marun yang lembut.

Siapa pelakunya? Seorang make up artist kuat nan kekar yang dendam kepadanya? Meracunnya dulu (kalau benar dugaan Wim) lalu mengganti baju dan merias wajahnya? Jonkers berpikir untuk mengucapkan selamat kepada sang pembunuh, membuat Lagarise ketika ditemukan tidak dikenali.

Baca juga: KAU SEDANG MEMBACA APA – Cerpen Tjak S Parlan (Media Indonesia, 09 September 2018)

Ibunya sendiri bahkan mengaku, “Kukira ini adalah acara lucu-lucuan seperti di televisi, dan kukira perempuan yang sedang terlentang itu mungkin saja teman kencan Lagarise. Tidak pernah terpikir itu Lagarise yang sudah meninggal…”

Yah, Mevrouw van Mullen cukup tegar, tidak histeris, tidak pingsan, tidak juga menangis di depan wartawan media cetak maupun televisi yang memenuhi lokasi ketika akhirnya polisi dipanggil dan datang dengan mobil ambulans. Jonkers memang naif, tapi dia tergelitik untuk menuduh. Mevrouw van Mullen mengambil sedikit bagian dari semua ini. Atau setidaknya dia bersalah karena terlihat seperti lega dan bahagia kehilangan putra satu-satunya. Memang, keluarga dekat dari Mevrouw van Mullen mengatakan kepada wartawan, kalau Lagarise pernah mengancam membunuh ibunya sendiri dengan senapan berburu.

Arsip Cerpen di Indonesia