Huff, benar-benar awal musim panas yang panas. Jonkers mengelus-ngelus alisnya yang tumbuh subur mencuat. Aku bukan detektif, bukan pula polisi, apalagi wartawan berita kriminal yang melebih-lebihkan dalam setiap berita tentang Lagarise—aku hanya tetangga yang penasaran. Siapa perempuan yang kulihat melintas di halaman depan rumah Lagarise ketika itu? Dan dua malam kemudian Lagarise ditemukan? Apakah itu Lagarise sendiri yang berdandan ala perempuan dan lalu lalang di depan hidungku? Ataukah sang pembunuh itu sendiri?
Baca juga: Pencuri Kesunyian – Cerpen Agus Salim (Media Indonesia, 02 September 2018)
Diduga kuat Lagarise kerap berdandan seperti perempuan walaupun tampangnya keras dan jahat. Ada kehidupan lain yang dia sembunyikan. Tapi, Jonkers tidak percaya. Dia sangat yakin, Lagarise diperdaya sebelum maut menjemputnya.
***
Lagarise mati dalam tidurnya. Setan memakan nyawanya. Karena setan cemburu. Jika terus-terusan dibiarkan hidup, setan kalah pamor. Lagarise memang masih muda, tapi mumpung masih muda, sebelum tangannya melakukan kejahatan lain yang lebih berbahaya dan bisa menggeser kedudukan setan, lebih baik dihabisi dulu. Begitu jenderal setan akhirnya memutuskan. Piala siapa yang terjahat haruslah tetap milik setan.
***
Lagarise panjang umur, setelah sebelumnya bertobat dan memberi dirinya dipermandikan. Dia bahkan mulai berkhotbah tentang pengampunan dan kasih karunia. Tapi, baru berpikir begitu, ada yang muntah, cuih!
***
Kesaktian Lagarise semakin menjadi-jadi, semua dukun sakti mandraguna sudah menanda tubuhnya. Rambutnya tak putus ditebas keris dari Jawa. Semua orang takut kepadanya. Semua yang mengenal maupun tak mengenalnya menjuluki dia: psikopat. Tapi, muncul puteri dari Timur jauh, menancapkan jarum beracun ke kulitnya yang bersisik. Ular muda roboh, mampus!
***
Lagarise sekarat di pelukan istrinya, muntah darah. Istrinya tersedu karena bahagia, Si Jahat ini mati juga akhirnya.
Baca juga: Sepotong Roti Hijau – Cerpen Marliana Kuswanti (Media Indonesia, 19 Agustus 2018)
Belum hilang di ingatan sang istri, Lagarise kerap mencemooh siapa saja.
Merendahkan siapa saja. Lagarise pernah berkata, “Aku benci si X, kalau anak laki-laki kita sudah besar, mungkin akan kusuruh dia mencari anak perempuan si X, supaya dirusak.”
Sang istri memang penurut dan mungkin bodoh, tapi dia benci mendengar kalimat rendahan dan memalukan seperti ini. Mimpi apa…
***