Hans Christian Andersen memanggil peri-peri baik hati yang terbang keluar dari bingkai pintu dan melindungi dan membawa perempuan itu pergi… ketika Si Jahat itu tiba-tiba kerasukan dan mulai mengeluarkan kata-kata hinaan. Peri-peri lalu memanggil binatang pemakan setan, dan Lagarise terkurung selamanya di dalam perut sang binatang yang tak bernama.
***
“Ayo… Kafenya bisa-bisa sudah tutup kalau kita tidak pergi-pergi juga!”
“Ya.”
Baca juga: Kambing yang Jatuh dari Langit – Cerpen Anas S Malo (Media Indonesia, 26 Agustus 2018)
“Cepat! Viktor dan teman-temanku sudah menunggu. Habis ini mau lanjut biliar,”
“Sekalian saja aku ndak usah ikut ya?”
“Terserah! Kami mau minum-minum jadi lebih baik kau jangan menghalangi. Eeh, kamu juga jangan coba-coba bawa Mercy baruku keluar rumah. Kamu di rumah saja, memangnya kamu butuh cari laki-laki lain? Mau selingkuh?”
“Ya.” Dalam hati, ‘Padahal mobil bekas tahun purba, pede, sok kaya…’
***
Lagarise melangkah masuk ke kafe, tepat ketika seekor ular derik berbisa yang tersesat dari padang gurun, menerjang mata kaki Lagarise. Lagarise menjerit-jerit, mungkin seperti Neymar. Tapi, Neymar baik-baik saja. Namun, Lagarise tewas membiru.
***
Lagarise kejatuhan meja bilyar yang barusan diturunkan dari truk kontainer, dan teman-temannya berpesta bir, merayakan kematiannya. Sebenarnya tewas kejatuhan pisang lebih tragis lucunya, tapi pastilah pembaca akan menuduh, ini meniru-niru cara tewas ayah dari Forrest Gump.
***
Baca juga: Hujan Belum Turun di Teluk Kao – Cerpen Deasy Tirayoh (Media Indonesia, 05 Agustus 2018)
“Heh! Bikin apa kau di situ? Pura-pura sibuk? Ada undangan pesta nanti malam. Kau bisa pinjam baju pesta Nila, juga tas sekalian. Dandan yang cantik, jangan bikin malu!”
Aku memandang ke wajahnya yang keji, merenung-renung kapan saat yang tepat, dan bagaimana?
Nah, adakah yang tahu bagaimana cara mematikan Lagarise tanpa harus ketahuan lalu kemudian bersakit-sakit diadili di pengadilan manusia?
Sebaiknya kuhabiskan dulu gelas kedua teh beras merahku yang enak ini, sebelum lanjut menulis, nah itu dia! Aku bisa mulai dengan mengembangkan karakter aneh bernama Jonkers, dan Si Pak Tua yang berlidah sadis, Wim van Tilburg. Dan yang paling penting, memunculkan karakter paling misterius yang antik dan licin—sang pembasmi lelaki pelaku kekerasan verbal dan fisik. Duh, susah ternyata mencoba menjadi seorang pengarang.
Caroline Wong, sejumlah karyanya telah dimuat di sejumlah media massa.