“Kenapa Kakekmu mau melakukannya?” pertanyaan yang diluapkan Ramlah cukup polos.
“Ya, Kakekku mau dapat persenan.”
“Keuntungannya banyak ya?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Apa Kakekmu juga memasukkan simpanan ke Kospin itu?”
Sebelum menjawab pertanyaan Ramlah, kucoba menenangkan gemuruh dadaku dengan menarik napas panjang, mengambil jeda. Ramlah semakin serius ingin mendengarku.
Baca juga: Sulur – Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sultra, 15 Agustus 2018)
“Hanya setengah tahun mencicipi manisnya persenan, Kakek sadar, bahwa dia jadi korban pembohongan walau didaulat sebagai perpanjangan tangan. Uang berlimpah yang disetor para warga setempat yang sudah tergiur merasakan ada bukti dengan janji bunga,ternyata dikemudian hari digelapkan oleh pendirinya.”
“Sebenarnya, Hasman itu siapa?” potongnya.
“Hasman itu kemenakan dari Kakekku.”
Ramlah terkejut. “Kenapa dia tega melarikan diri dan melanggar kepercayaan yang diberikan?”
“Begitulah cara cobaan datang, tak disangka-sangka, keluarga sendiri yang menghancurkan wajah Ayah dan Kakekku di mata orang-orang.”
“Kemudian, pistol yang diberikan Hasman itu pernah dipakai menembak?”
“Digunakan Kakekku untuk menakut-nakuti orang yang ingin menyerangnya.”
“Jadi tak pernah dipakai menembak?”
“Ke orang lain tidak. Melainkan ke tubuh pemiliknya.” pengakuanku membuat kening Ramlah berkerut. Dia juga menempelkan tangannya ke mulut, tak menyangka pada peristiwa yang dialami Kakekku.
Baca juga: Preman Pamit Tobat – Cerpen Ferry Fansuri (Rakyat Sultra, 06 Agustus 2018)
“Maksudnya, Kakekmu menembak dirinya sendiri?”
“Ya. Karena yang ditahu mengumpulkan uang di kampungku oleh warga sekitar adalah Kakekku, mau tak mau, dia yang harus melunasi. Namun, Kakekku berhasil melunasi utang-utang itu dari hasil mencuri. Setelah utang-utangnya terlunasi, Kakekku memilih menembak kepalanya.”
“Pistol itu sebenarnya diberikan untuk apa? Berjaga-jaga atau apa?”
“Ayahku bilang, hanya hadiah.”