Ramlah mengangguk dan terlihat tak puas mendengar jawabanku. Kulanjutkan lagi ceritaku, “Ya, belakangan Ayahku membenarkan kecurigaannya, bahwa kedatangan Hasman dari Ujung Pandang (nama untuk kota Makassar yang sering kudengar kala kecil), memang punya misi untuk sekali bicara menemui kesepakatan. Hanya saja waktu itu, Ayahku tak berani membantah keputusan Kakekku yang keras ingin menerimanya. Nah, belakangan pistol itu juga punya manfaat sebagai alat pelindung untuk menakuti penagih utang yang bertindak brutal.”
“Apa pernah ada penagih yang melapor karena diancam untuk ditembak.”
“Yang kudengar tak pernah ada. Mungkin segan, karena Kakekku juga banyak membantu warga yang butuh disembuhkan.”
Baca juga: Amnesti – Cerpen Putu Wijaya (Kompas, 16 September 2018)
“Kakekmu dukun ya?”
Aku menjawab dengan anggukan.
“Oh ya, kenapa mesti mencuri?”
“Tak ada alasan untuk tidak melakukannya, begitu kata Ayahku, sewaktu pertanyaan yang sama kuajukan.”
“Apa Ayahmu juga terlibat di dalamnya?”
“Iya. Siapa lagi yang akan membantu Kakekku.”
“Mereka pernah ketahuan?”
“Kalau tak salah ingat, di akhir melunasi utang ke salah satu warga, Kakekku hampir saja ketahuan?”
Baca juga: Lelaki Pengurus Orang Mati – Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Republika, 16 September 2018)
“Aku pernah mendengar, bahwa Kakekmu pakai kulahu, jimat tembus pandang.Terus, kenapa orang-orang tahu kalau Kakekmu itu pencuri?”
“Ayahku bersyukur karena belakangan baru disadari warga setelah mengaitkan pekerjaan Kakekku yang dikenal sebagai dukun. Kakekku memang memiliki jimat itu.”
“Apa saja yang dicuri?”
“Sapi, kuda, kambing, intinya hewan peliharaan saja.”
Ramlah menarik dan mengembus napas tidak teratur, kutafsir dia miris mendengar kondisi keluargaku yang kacau balau pernah dililit utang. Aku harus mengungkapkannya, agar kejujuranku tidak membuatnya menyesal di kemudian hari telah mencintaiku.
***
Baca juga: Burhan – Cerpen Achmad Agung Prayoga (Suara Merdeka, 16 September 2018)
Kau tak mungkin lagi mendengar suara keluar dari mulutku, tetapi tidak dari hatiku. Bukan begitu, Rungka? Kau perlu tahu, harapan kita menikah secara resmi memang tak akan pernah tercapai. Orang tuaku makin mendidih dalam berkata-kata, jadi lebih baik aku bunuh diri ketimbang mereka yang terus mengancam akan melakukan itu bersama-sama. Aku tak ingin melihat orang tuaku bersimbah darah.