Kawali dan Pistol

Begitulah, tak kutunda lagi di malam kesendirianku di kamar setelah khatam mengumpulkan keberanian mewujudkannya. Bunuh diri adalah jalan kematian yang dihindari banyak orang, tetapi kupilih melakukannya karena inilah takdir yang tak bisa kuelak. Kuambil satu dari tiga kawali yang biasa ditaruh Ayahku di bawah kasur pembaringannya, kawali yang juga mungkin sering diselipkan di pinggangnya jika bepergian. Dengan menghadap arah rumahmu yang searah dengan kiblat, kawali begitu mudah memakan darah segarku.

Baca juga: Pencegahan Bunuh Diri – Cerpen Jaroslav Hasek (Jawa Pos, 16 September 2018)

“Tuhan jadi saksi cinta kita Ramlah.”

“Memang siapa lagi yang akan jadi saksi jika bukan Tuhan?”

“Tak ada yang mengalahkan kekuasaan Tuhan?”

“Ada yang mengalahkan-Nya?” candaku.

“Ya, orang tuamu.”

“Orang tuaku bukan orang tua yang mengerti cinta.”

Percakapan kita ini hiburan dari masalah yang menghadang kebersamaan, kita tertawa begitu lepas di kamar rumahmu dalam balutan seragam pengantin. Ya, kita menikahkan diri sendiri dan Tuhan-lah jadi saksi sakral sehari sebelum mayatku terkapar. Tapi sayang, kau tak berani menginjakkan kaki ke rumahku.

***

Baca juga: Mematikan Lagarise – Cerpen Caroline Wong (Media Indonesia, 16 September 2018)

Setelah mampu melepas belenggu frustrasi dari utang-utang, Kakekku mati dengan pistolnya sendiri. Pilihannya bunuh diri, kata Ayah sudah tepat, sebab dosa yang dilakukan Kakekku kepada orang begitu berlimpah dan bunuh diri dianggap setimpal. Pistol itu sekarang berada di tanganku. Cukup satu anak peluru untuk melepas pergi nyawaku. Ramlah sudah pergi, aku tak memiliki alasan lagi untuk bertahan hidup. Baik aku, Kakek, dan Ramlah, mungkin bisa disebut orang yang berani memilih bunuh diri sebagai takdir kematian.

Untuk merayakan hidupku terakhir kalinya, kini tubuhku sudah terbalut baju pengantin. Aku sudah siap mengakhiri hidup sebagai pengantin yang menikahi mayat di sisi kuburan Ramlah saat asar masuk, tepat waktu tangisku pertama kali pecah di dunia. Namun, ledakan yang cukup keras membuatku terkejut karena begitu dekat dari kamarku. Apakah Ayahku selama ini menyimpan pistol yang lain di kamarnya?

 

 Alfian Dippahatang, lahir 3 Desember 1994 di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin. Bergiat di sebuah ruang diskusi dan menulis bernama Kelompok Belajar Memancing dan Malam Puisi Makassar. Bukunya yang sudah terbit, Dapur Ajaib (Basabasi, 2017) dan Kematian Anda yang Tak Sia-sia (Diva Press, 2018). Peserta Terbaik Workshop Cerpen Kompas di Makassar International Writers Festival 2015 dan Emerging Writers Makassar International Writers Festival 2018.

Arsip Cerpen di Indonesia