Senyum Ibu

Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, ibu berjualan aneka kue basah dan gorengan yang dititipkan di warung-warung terdekat. Bahkan, Aira tak merasa malu membawa dagangan ibu setiap pagi ke sekolah untuk dititipkan di kantin.

***

Suara batuk ibu membuat konsentrasi Aira yang tengah membaca buku menjadi ambyar. Aira memang sengaja menunggu ibu di kamar beliau. Sambil duduk di kursi plastik dekat jendela, Aira membaca buku Happiness Every Day karangan Safiya Hussain yang ia pinjam di perpustakaan sekolah. Sebuah buku motivasi yang telah tiga kali ini ia baca tapi tak pernah membuatnya bosan karena isinya sangat bagus, mengajak pembaca agar melewati hari-hari sepanjang tahun dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Buku ini pula yang mampu membuat Aira berdamai dengan takdir yang semula ia anggap tak adil.

Baca juga: Pulsa – Cerpen Herumawan PA (Minggu Pagi No. 22 Th 71 Minggu V Agustus 2018)

“Lho, Aira nggak sekolah?” pertanyaan ibu membuat Aira tersenyum.

“Ini kan hari Minggu, Bu,” kata Aira sambil menutup bukunya.

“Oh, hari Minggu, ya?” Ibu pun mengulas senyum.

“Gimana kondisi Ibu, udah nggak lemas, kan?” tanya Aira saat melihat wajah ibu yang sudah tak sepucat tadi pagi.

“Alhamdulillah, udah mendingan,” Ibu tersenyum menatap Aira. Beliau bersyukur meski hanya hidup berdua dengan putrinya, tapi Aira adalah anak yang berbakti dan selalu khawatir saat melihat ibunya sakit. Persis sebagaimana kekhawatiran ibu saat melihat Aira sedang tak enak badan.

Baca juga: Kencan Terakhir – Cerpen Ken Hanggara (Minggu Pagi No. 22 Th 71 Minggu V Agustus 2018)

Tentang kisah perselingkuhan ayah dengan wanita lain, ibu sudah berusaha melupakannya meski masih menyisakan rasa sakit bila kembali teringat pengkhianatan tersebut. Ibu memilih berpisah dari ayah. Ayah lantas pergi meninggalkan ibu. Luka di hati ibu kian menganga saat sebulan kemudian ia mendengar berita tentang pernikahan ayah dengan wanita selingkuhannya yang digelar di luar kota.

“Mulai sekarang ibu harus lebih menjaga kesehatan. Jangan terlalu kecapaian. Pokoknya kalau ngerasa capai, Ibu harus berhenti. Jangan dipaksakan. Aira nggak mau kalau Ibu sampai jatuh sakit lagi.”

Arsip Cerpen di Indonesia