Bunga Kesunyian yang Tumbuh di Jantungmu

Setelah mengeliling desa-desa hangus dan mengerat kesedian demi kesedihan yang tumbuh pada mayat-mayat korban pembantaian, malam harinya, kami termenung di bilik-bilik bekas rumah yang masih tersisa. Kami menunggu mekarnya kuntum-kuntum bunga kesedihan dari seluruh genosida yang baru saja terjadi. Begitulah. Waktu setiap orang tertidur di dalam mimpi indahnya—entah mengapa malaikat kematian selalu datang ketika seseorang lengah—orang-orang yang menyebutnya sebagai partikelir kampung, mulai menyerbu suatu desa yang dianggap sebagai basis anggota Komunis. Apabila sudah seperti itu, mereka dengan berang merusak, membakar, dan membunuh setiap orang yang ditinggal. Mereka tidak peduli anak-anak atau orang tua; wanita atau pria; tua atau muda. Di mata mereka yang penuh kebencian semua sama: harus ditupas dan dibantai.

Dengus tangis dan teriakan akhirnya tak aneh mengawang terdengar jauh membuat malam yang sunyi gaduh. Tampak pula berkas-berkas merah dari rumah-rumah yang terbakar. Di tengah jalan pun berbondong-bondong orang berlarian dalam keadaan cemas dengan sebagian mengokang senjata atau mengayunkan pedang serta golok. Mereka saling membunuh seraya menyebut-nyebut nama Tuhan. Satu per satu orang-orang itu mati mengenaskan dengan kepala pecah, tubuh tercacah, dan jantung berlubang tertembus peluru. Aku pun—karena sangat seringnya—melihat orang-orang itu seperti kerumunan iblis yang turun dari neraka. Hingga kemudian—usai segalanya yang telah surut dan menenang—kuncup-kuncup bunga kesunyian mulai bermekaran di antara gelimpang mayat-mayat tak berdaya.

Baca juga: Bocah yang Ingin Melihat Neraka – Cerpen Risda Nur Widia (Radar Banjarmasin, 22 Oktober 2017)

Ahh, apakah aku juga dilahirkan seperti sekuntum bunga kesunyian itu? Hidup dari kesedihan dan kenangan muram. Aku memang diciptakan dari percik amarah dan dendam. Akulah anak-anak kisruh politik 1965 yang setiap saat harus menjadi saksi, ketika kuntum-kuntum bunga kesunyian itu tumbuh di antara cercah luka dan genangan darah.

“Terbuat dari apa bunga-bunga itu sebenarnya?” kataku lirih sembari terus mengamati seluruh mayat yang terbunuh. “Mengapa bunga itu selalu tubuh di antara kesedihan dan kemalangan? Mengapa bunga itu selalu mengoda untuk dipetik?”

Akhirnya setelah kericuhan benar-benar usai, ribuan bunga-bunga kesuyian bermekaran di setiap tempat. Aku pun memetik salah satu bunga kesunyian yang tumbuh di leher seorang mayat yang telah kehilangan kepalanya. Aku menghirup aroma kematian pada kelopak-kelopaknya yang kelam. Lantas aku memberikan bunga itu kepada seorang bocah yang baru saja kehilangan keluarganya. Aku berharap bunga itu dapat menjadi penyejuk hati mereka yang pilu.

Arsip Cerpen di Indonesia