Bunga Kesunyian yang Tumbuh di Jantungmu

“Kalau kau mau, ikutlah bersama kami,” ajakku pada bocah-bocah yang menangis itu dan memberikan sekuntum bunga kesunyian yang aromanya menyerupai darah. “Kita akan mencari rumah bersama-sama. Rumah yang bisa membuat kita menanam bunga dengan bebas. Rumah tempat setiap orang dapat berdamai dengan dirinya sendiri.”

Kini semakin banyak anak-anak sepertiku ikut. Tetapi sejurus kemudian, bertambah banyak pula bunga-bunga kesunyian yang tumbuh di kota atau desa yang telah hancur. Kami pun menjadi segerombol gelandangan yang mengembara, yang seakan hanya ada untuk mengumpulkan setiap tangkai kesedihan; yang mekar pada kota-kota atau desa-desa yang telah mati. Kami mengerat bunga-bunga kesunyian itu seraya mencium harum kenangan akan orang-orang yang telah dibantai.

***

Aku dan ratusan anak-anak korban politik lainya tak lelah mengembara; mengumpulkan setiap kuntum bunga kesunyian yang mekar di tengah ladang-ladang pembantaian. Ya, karena hanya pada bunga kesedihan itulah, kami dapat melabuhkan rindu pada orang-orang yang telah pergi. Tetapi, entah mengapa, orang-orang kini malah menyebut kami sebagai anak-anak pembawa kutukan. Karena hampir setiap kota atau desa yang kami singgahi, selalu tertimapa malapetaka.

Baca juga: Rinjani: Pada Suatu Hari yang Malas – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 16 Oktober 2016) 

“Apakah anak-anak itu membawa kutukan?”

“Entahlah. Tetapi, setiap desa, kota, atau keluarga yang digunakan untuk menampung mereka, selalu menjadi incaran kekacauan. Bahkan yang lebih mengerikan lagi, mereka dianggap bersekongkol dengan PKI, karena melindungi salah satu anak keturunannya!”

“Jadi, memang mereka membawa kutukan!”

Kata-kata itu sering aku dengar. Malaikat-malaikat kematian seakan dapat mengendus harum bunga kesuyian yang telah melekat di tubuh kami. Yang lebih parah lagi, terdapat sebuah mitos ganjil tentang anak-anak korban pembantaian seperti kami. Mereka menganggap kesedihan hanya menyukai anak-anak.

Mitos itu pun seakan menjadi benar. Setelah sebuah desa atau keluarga kami datangi, malam atau siang harinya, pasti berdatangan sejumlah militer atau para partikelir desa yang menggempur dan menghancurkan tempat tersebut. Terdengar pula pekik dan jerit tangisan. Sebuah daerah akan terbakar habis dalam waktu sekejap. Dan seusai pembantaian, seperti biasa, kami hanya akan menjumpai bocah-bocah murung lainnya yang baru saja kehilang orang-orang tersayang.

Arsip Cerpen di Indonesia