Tetapi, aku tak pernah merasa sedih ketika melihat orang-orang yang terbantai itu. Aku pun tidak lagi ngeri atau lari, saat melihat ceceran darah, atau sebongkah daging yang berserak di jalan. Aku malah melihat keindahan dalam bentuk lain dari serakan mayat itu. Karena pada tubuh-tubuh yang mulai membusuk itulah, kuntum-kuntum bunga kesunyian mulai menampakkan kuncup-kuncupnya yang cemerlang. Karena hanya pada kesedihanlah, kami dapat mengekalkan kenangan.
Gesit, aku mengumpulkan kenangan dalam setiap tangkai kesuyian; menghirup aromanya yang menggetarkan seraya mengingat-ingat kapan terakhir kali aku merasa bahagia. Aku menatap ke arah bocah-bocah yang menangis itu.
Baca juga: Hitler dan Neraka yang Dibuatnya – Cerpen Risda Nur Widia (Jawa Pos, 31 Juli 2016)
“Mereka tidak akan pernah hidup lagi, walau seribu tahun kalian menangisinya. Kalau kalian mau, ikutlah denganku,” kataku mengajak segerombol bocah yang terus menangis. Aku memberikan sepucuk bunga berwarna hitam pekat kepadanya. Bunga yang aku petik dari sebidang dada yang berlubang. “Kita akan mencari rumah bagi bunga-bunga ini. Kita akan mencari rumah bagi segala kenangan.”
Seperti tak ada lagi tempat untuk pulang, kami terus mengumpulkan kesedihan demi kesedihan dalam kuncup-kuncup bunga kesunyian di setiap kota atau desa yang murung. Bunga-bunga yang merekah ketika kemalangan dan kematian mengental di udara.
Langkah-langkah kami seperti tak henti digerakkan oleh takdir-takdir muram yang menyeret entah ke mana. Setiap hari kami bertualang mengumpulkan kemurungan dan rasa kehilangan pada kuncup-kuncup bunga. Kami terus mengembara mencari segumpal kenangan yang tak pernah mati, walau seribu peluru menghujamnya. (*)
Jakarta-Yogyakarta, 2013-2018
Risda Nur Widia. Buku tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015) dan Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia seperti Mersault (2016). Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing (2018). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.