Seingatnya, barang-barang yang pernah dibawa burung-burung besar itu bukan barang sembarangan. Sebagian tak pernah ia lihat sebelumnya, seperti: ular penuh warna, sejenis buah berbentuk tangan manusia, atau akar pohon yang menguarkan aroma amis.
Barang-barang ini sangat dibutuhkan ayahnya. Tak banyak yang tahu, bila ayahnya sebenarnya adalah seorang tabib, tapi ia menolak untuk mengobati siapa pun, karena dulu pernah gagal saat mengobati adik kesayangannya. Maka hari-harinya hanya dipenuhi dengan membuat ramuan. Bila didengarnya di sebuah desa terjangkit penyakit tertentu, ia akan datang ke sana sambil membawa ramuannya.
Read also: Sway of the Swing – Short Story by Yudhi Herwibowo (The Jakarta Post, February 12, 2018)
Barulah ketika ia berusia 15 tahun, ayahnya mulai menceritakan perihal pintu itu. “Kau mungkin sejak dulu bertanya-tanya kenapa pintu itu berdiri di situ. Tapi aku tak pernah mau menjawabnya. Kini kupikir, waktuku untuk menjawab semuanya. Pintu ini… bukanlah pintu biasa. Itu pintu yang dapat membawamu ke manapun kau mau. Ayahku membawanya ke sini, untuk menjaganya. Karena bila pintu ini ada di tangan orang yang salah, aku tak bisa membayangkan malapetaka yang akan terjadi.”
Laki-laki itu sebenarnya tak terlalu yakin dengan apa yang ditangkap telinganya. Tapi ayahnya kemudian berkata, “Coba kau masuk ke dalamnya! Bayangkan suatu tempat yang kau inginkan lebih dahulu, sebelum kau masuk.”
Laki-laki itu membayangkan sebuah pantai yang indah dengan perahu-perahu nelayan berderet di tepiannya. Setelah menyingkirkan gemboknya, ia mulai membuka pintu. Dan begitu kedua kakinya melewati ambang pintu, yang dilihatnya di depan matanya adalah sebuah pantai seperti yang dibayangkannya.
Ia buru-buru keluar dengan tatapan tak percaya. Ia kemudian mencoba untuk kedua kalinya. Kali ini dibayangkan sebuah kota besar di mana jalanannya dipenuhi orang-orang. Dan kembali, begitu kakinya melewati ambang pintu, dilihatnya sebuah kota seperti yang dibayangkannya.
Baca juga: Dua Telapak Tangan Umirra – Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 10 Desember 2017)
“Ayah ini menyenangkan,” serunya. “Semua bisa jadi lebih mudah karena pintu ini. Tapi kenapa ayah bilang tadi, tak bisa membayangkan malapetaka yang akan terjadi?”
Ayah menarik napas panjang. “Sebelum pintu ini dibawa ke mari, pintu ini ada di sebuah kota. Penguasa kota membiarkan orang-orang bebas memakainya. Kau tahu apa yang kemudian terjadi? Beberapanya memang hanya mencoba mencari tempat-tempat yang indah. Namun beberapa di antaranya, memanfaatkan pintu ini untuk mengambil barang-barang berharga di tempat yang dibayangkannya. Itulah kenapa penguasa kota itu kemudian menyuruh ayahku membawa pintu ini pergi sejauh mungkin, dan menjaganya agar tak dimanfaatkan orang lain.”