Laki-Laki yang Menyeret Sebuah Pintu

Laki-laki itu mengamatinya sepanjang hari. Dari saat ia menjemur pakaian, memasak makanan, hingga akhirnya ia pergi ke arah sungai untuk mengambil air.

Saat itulah laki-laki itu memutuskan menghampiri gadis itu. Ia menawarkan diri menolong membawakan kendi air gadis itu. Tapi sepanjang perjalanan tak ada yang bicara. Laki-laki itu hanya bisa melirik gadis itu berkali-kali. Hingga keduanya tiba di depan rumah gadis itu.

Baca jaga: Pohon Buku- Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 20 November 2016) 

Saat gadis itu masuk, laki-laki itu hanya berdiri termangu. Ia mulai ragu untuk kembali ke arah pintu. Terlebih saat gadis jelita itu muncul di jendela dan tersenyum padanya. Ia seperti terbang ke awang-awang. Sungguh, sepanjang hidupnya ia tak pernah mengalami perasaan seperti ini.

Ia menyadari kalau tak seharusnya di sini. Ayahnya akan marah bila ia mengesampingkan tugas ini. Tapi sisi batinnya yang lain mencoba membela diri. Sekian lama ia menjadi anak yang penurut, tak pernah sekali pun ia mengecewakan ayahnya, walau sebenarnya ia hanyalah anak angkat. Kini, saat sebuah bayangan tentang kebahagiaan terpampang jelas di hadapannya, ia benar-benar tak ingin meninggalkannya.

Sambil meminta maaf dalam-dalam pada ayahnya, ia memutuskan untuk tak kembali.

Baca juga: Malam Mengenang Sang Penyair – Cerpen Yudhi Herwibowo (Tribun Jabar, 26 Maret 2017)

Pintu itu ditinggalkan begitu saja di tepian hutan itu. Seorang pemburu melihatnya dan mencoba membukanya. Saat itu ia sedang membayangkan sebuah tempat berburu yang dipenuhi rusa dan babi liar. Dan betapa terkejutnya ia saat melangkahi ambang pintu itu, ia menemukan tempat seperti yang dibayangkannya.

Ia segera menyebarkan apa yang dialaminya itu pada kawan-kawannya. Dan kabar itu bagai menjadi daun-daun luruh yang terhempas angin tak tentu arah. Hanya sehari berselang, orang-orang di sekitar hutan itu mulai berdatangan.

Semakin hari orang-orang semakin menyemut. Satu persatu mulai mendekati pintu itu. Namun di saat seorang yang berada paling dekat mulai meraih gagang pintu itu, seekor burung besar tiba-tiba muncul di sana. Dengan cengkeramannya, ia segera menarik pintu itu dan membawanya pergi entah ke mana… ***

 

Yudhi Herwibowo. Menulis beberapa buku. Buku terbarunya: Sang Penggesek Biola, sebuah roman tentang Wage Rudolf Supratman (Imania).

Arsip Cerpen di Indonesia