Laki-Laki yang Menyeret Sebuah Pintu

Dan kini, telah hampir 10 tahun lebih sejak perbincangan itu. Ayahnya telah lama meninggal. Laki-laki yang awalnya mencoba meneruskan menjaga pintu itu, merasa tak bisa terus begini. Orang-orang terus beranak-pinak, desa-desa kecil di sekitar gunung yang awalnya hanya ditinggali segelintir orang, terus tumbuh. Beberapanya bahkan sudah ada yang pernah datang ke sini.

Sungguh, ia tak berani membayangkan apa yang akan terjadi nanti.

Laki-laki itu memutuskan untuk membawa pintu itu pergi dari gunung. Ia teringat ucapan gurunya di hari-hari terakhirnya. “Satu-satunya jalan agar tak pernah terjadi kejadian mengerikan seperti dulu adalah menghancurkan pintu ini. Dan tempat yang bisa menghancurkannya hanyalah Sumur Akhirat.”

Read also: The Crybaby – Short Story by Yudhi Herwibowo (The Jakarta Post, September 25, 2017) 

Sumur Akhirat adalah semacam lubang raksasa di mana lahar gunung bersemayam sejak beratus-ratus tahun lalu. Di situlah pintu ini harus dilemparkan agar hancur. Karena pintu itu memang tak mempan dihancurkan dengan cara biasa.

Tapi tentu, itu bukan perjalanan yang mudah. Jaraknya begitu jauh. Bahkan tak terlukis di peta yang dimiliki ayahnya. Terlebih pintu itu juga begitu berat.

Laki-laki itu kemudian mengikat pintu itu dengan tali yang ujung lainnya dikalungkan di dadanya. Di jalan yang lurus, cara ini nampak mudah. Namun di jalan berbatu dan yang dipenuhi pohon, tentu ini bukan cara yang mudah.

Baru melintasi sebuah desa saja, tubuh laki-laki itu terasa remuk. Ditambah lagi gangguan orang-orang yang nampak ingin tahu. Tapi ia mencoba tak peduli dengan ucapan-ucapan itu. Ia berpikir, begitu ia berusaha akrab, orang-orang itu akan semakin banyak bertanya. Dan ia takut salah bicara.

Baca juga: Terkutuk – Cerpen Yudhi Herwibowo (Koran Tempo, 23-24 September 2017)

Berhari-hari kemudian dilewatinya. Ia merasa perjalanannya seperti tak pernah berakhir. Namun di sepanjang jalan, saat ia merasa begitu kesepian, ia mencoba menghibur dirinya. Diam-diam ia akan menegakkan pintu dan membuka gembok pintu. Ia kemudian membayangkan tempat-tempat tertentu yang ingin didatanginya. Di sebuah istana milik penguasa kota, di sebuah restoran tempat di mana makanan paling enak dibuat, bahkan di tempat yang seharusnya tak pernah dipilihnya: di sebuah tempat di mana seorang gadis jelita yang dicintainya berada.

Dan pintu itu benar-benar membawanya ke sana. Gadis itu benar-benar melampaui apa yang dibayangkannya. Tubuhnya tinggi semampai, senyumnya merekah bagai cawan kehidupan yang selalu ingin diteguknya, dan suaranya saat mendendangkan sebuah lagu terdengar begitu merdu. Sungguh ia adalah gadis paling jelita yang pernah ditemuinya.

Arsip Cerpen di Indonesia