Perkawinan Akhirat

“Ya, siapa lagi kalau bukan ibu?” suara Bas terdengar ketus.

“Bukankah beliau ibu kita?”

“Iya, tetapi…”

“Bukankah dahulu, oleh perempuan itu kamu dilahirkan? Bukankah dahulu oleh perempuan itu juga kamu disuapi dan diceboki. Jangan biarkan kata-kata kasarmu itu membuat dirimu menyesal saat ibu sudah tiada nanti, Bas!” Sengaja kupotong ucapan Bas yang nada suaranya kudengar mulai meninggi dengan kalimat memojokkan. Aku malas berdebat dengan adikku yang memang temperamental itu.

Baca juga: Marto Timpal dan Kisah Pohon Ipik – Cerpen Eko Setyawan (Radar Banyuwangi, 16 September 2018)

Lewat telepon genggamku terdengar helaan napas panjang dari seberang. Kubayangkan saat itu Bas sedang tertunduk dengan wajah risau. Sejenak sunyi mengental. Segera kumanfaatkan situasi itu dengan menggelontorkan berbagai macam nasihat kepadanya. Bas luluh. Terhadapku dia memang cukup segan.

“Iya, Mas. Maafkan aku.” Dengan terbata-bata akhirnya Bas mengungkapkan penyesalannya dan bersedia ikut ke rumah ibu.

***

Minggu pagi yang telah tersepakati kami bertemu di rumah ibu. Tempat tinggal yang berbeda kota dan berjarak puluhan kilometer dari rumah ibu membuat kami harus berangkat pagi-pagi benar. Aku, yang bertempat tinggal paling jauh, bahkan berangkat sehari sebelumnya. Selain perhitungan waktu, aku ingin berbincang santai dulu dengan ibu. Sabtu malam kuajak ibu putar-putar kota dan makan masakan kesukaannya.

Di ruang keluarga kami duduk berlima; aku, ibu, Mas Jum, Sri, dan Bas. Seri wajah ibu terlihat bahagia sekali pagi itu. Sembari sekilas-kilas memandang kami, tak henti senyum simpul mengembang di bibirnya.

Baca juga: Kisah Cinta Paling Sederhana di Dunia – Cerpen Zyadah (Radar Banyuwangi, 09 September 2018)

“Ibu bahagia sekali hari ini. Begitu rajin dan uletnya kalian mencari uang sehingga sulit sekali mendatangkan kalian secara bersama-sama seperti sekarang ini,” ibu tertawa kecil.

Kami, aku, Mas Jum, dan Sri saling pandang. Bas menunduk. Ada sayatan kecil yang terasa perih di dadaku. Ucapan ibu benar-benar menyilet ulu hati. Selama ini kami memang tidak pernah mengunjungi ibu secara bersama-sama. Lebaran sekalipun, selalu saja ada satu dua di antara kami yang tidak bisa datang. Selalu saja ada bermacam musabab dan aral yang merintang; keperluan keluarga, tugas kantor, dan entah apalagi. Profesi kami masing-masing memang memungkinkan hal itu acap berulang. Aku bekerja sebagai paramedis di sebuah rumah sakit. Sri, humas sebuah hotel dan Bas seorang polisi. Jenis profesi yang dituntut untuk senantiasa bersedia di saat lebaran atau hari-hari istimewa lainnya.

Arsip Cerpen di Indonesia